Fast Retailing Co., Ltd. (“Fast Retailing“ atau “Grup“; HK kode saham: 6288), mengumumkan hasil kinerja keuangan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 28 Februari 2026 yang merupakan semester pertama tahun fiskal 2026. Dengan kinerja yang kuat, Fast Retailing merevisi proyeksi tahun ini yang berakhir pada 31 Agustus 2026, serta meningkatkan ekspektasi dividen selama setahun penuh.
Pendapatan konsolidasi Fast Retailing berjumlah 2,0552 triliun Yen (215,8 triliun Rupiah), meningkat 14,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara itu laba usaha naik sebesar 28,30% YoY menjadi 386,9 miliar Yen (40,6 triliun Rupiah). Selain itu, Fast Retailing mencatat pendapatan pendanaan sebesar 28,1 miliar Yen (3 triliun Rupiah) setelah dikurangi biaya, terdiri dari pendapatan bunga sebesar 23,1 miliar Yen (2,4 triliun Rupiah) setelah dikurangi beban dan 5 miliar Yen (525 miliar Rupiah) dari keuntungan selisih kurs atas aset dalam mata uang asing.
Baca Juga: Penjualan Global Mobil JAECOO Naik Drastis pada Maret 2026, Seri J7 Jadi Mobil Terlaris di Inggris
Secara keseluruhan, laba semester I sebelum pajak penghasilan meningkat 17,9% YoY (year-on-year) menjadi 428,8 miliar Yen (525 miliar Rupiah), dan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 19,6% menjadi 279,2 miliar Yen (29,3 triliun Rupiah) pada periode tersebut.
Dengan memperhitungkan performa paruh pertama yang lebih kuat dari proyeksi awal serta kondisi penjualan saat ini, Fast Retailing Group telah menaikkan proyeksi kinerja untuk tahun fiskal penuh, dibandingkan dengan yang sebelumnya diumumkan pada Januari 2026. Fast Retailing kini memperkirakan akan mencapai rekor kinerja sebesar 3,9000 triliun Yen (409,5 triliun Rupiah), meningkat 14,7% dibandingkan dengan total aktual tahun sebelumnya, dengan revisi laba bisnis sebesar 690 miliar Yen (72,5 triliun Rupiah), kenaikan sebesar 25,2% secara tahunan (year-on-year), dan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas Induk diproyeksikan sebesar 480 miliar Yen (50,4 triliun Rupiah), dengan peningkatan sebesar 10,9%.
Selain itu, perkiraan dividen tahunan per saham untuk tahun fiskal 2026 telah dinaikkan sebesar 100 Yen (Rp10,500) menjadi 640 Yen (Rp67,200), yang terdiri dari dividen interim dan akhir tahun masing-masing sebesar 320 Yen (Rp33,600). Hal itu memperlihatkan peningkatan dividen setahun penuh sebesar 140 Yen (Rp14,700) per saham, dibandingkan tahun sebelumnya.
Kinerja UNIQLO International
Secara global, UNIQLO International melaporkan peningkatan pendapatan dan laba yang signifikan pada paruh pertama tahun fiskal 2026, dengan pendapatan meningkat 22,4% YoY menjadi 1,2413 triliun Yen (130,3 triliun Rupiah), dan laba bisnis meningkat 37,4% menjadi 233 miliar Yen (24,5 triliun Rupiah). Melihat masing-masing pasar dan wilayah, di antara operasi UNIQLO di wilayah Tiongkok Raya, pasar Tiongkok Daratan melaporkan peningkatan pendapatan pada semester pertama, dan pertumbuhan laba semester pertama sebesar dua digit dari tahun ke tahun. Pasar Hong Kong melaporkan peningkatan pendapatan pada semester pertama namun terjadi penurunan laba. Namun, laba meningkat dari tahun ke tahun ketika biaya royalti tidak termasuk. Pasar Taiwan melaporkan pendapatan dan laba yang lebih tinggi.
Sementara itu, operasional UNIQLO di Korea Selatan mencapai pertumbuhan dua digit dalam pendapatan dan laba berkat keberhasilan penggunaan saluran digital untuk mengomunikasikan informasi produk secara strategis, dan terus meningkatnya dukungan terhadap UNIQLO terutama di kalangan konsumen muda. Operasional UNIQLO di Asia Tenggara, India, dan Australia juga melaporkan pertumbuhan pendapatan dan laba dua digit pada semester I, didukung oleh keputusan untuk memperluas stok musim dingin serta penataan tampilan di area penjualan, serta kuatnya penjualan koleksi Spring/Summer.
UNIQLO Amerika Utara dan UNIQLO Eropa juga terus mencatat tingkat pertumbuhan yang tinggi, dengan laporan peningkatan pendapatan dan laba sebesar dua digit pada semester I. Kedua wilayah operasional tersebut juga mencatat pertumbuhan dua digit pada penjualan di toko yang sama, didorong oleh terjual dengan baiknya produk HEATTECH down, serta produk musim dingin lainnya. Tak hanya itu, produk sweatshirts/ celana, serta berbagai produk bawahan juga membantu mendorong penjualan.
Pada semester I tahun fiskal 2026, UNIQLO Jepang mencatat peningkatan pendapatan serta lonjakan yang signifikan pada laba, tercatat pendapatan meningkat 7,4% YoY menjadi 581,7 miliar Yen (61,1 triliun Rupiah), dan laba bisnis meningkat 13,4% menjadi 110,7 miliar Yen (11,6 triliun Rupiah). Sementara itu penjualan di toko yang sama pada paruh pertama (termasuk penjualan online) naik 6,5% YoY didorong oleh pemilihan produk sepanjang tahun yang disusun secara strategis sehingga membantu mendorong penjualan secara keseluruhan. Selain itu, memasuki musim dingin turut berkontribusi terhadap kuatnya penjualan koleksi perlengkapan musim dingin.
Pada segmen bisnis GU mencatat sedikit kenaikan pendapatan serta peningkatan laba dua digit pada semester I tahun fiskal 2026, dengan pendapatan meningkat 1,6% menjadi 168,4 miliar Yen (17,7 triliun Rupiah), dan laba usaha tumbuh 20,1% menjadi 15,7 miliar Yen (1,6 triliun Rupiah). Kinerja ini didukung oleh kuatnya penjualan global dari koleksi yang mencerminkan ‘mass fashion trend’ dan berhasil meningkatkan popularitas brand di kalangan kaum muda, serta performa penjualan yang kuat dari toko-toko GU baru di Taiwan dan Hong Kong.
Untuk segmen Global Brand, melaporkan penurunan pendapatan sebesar 7,5% menjadi 62,7 miliar Yen (6,6 triliun Rupiah) juga kerugian sebesar 700 juta Yen (73,5 miliar Rupiah) pada kategori laba/rugi usaha. Hasil ini terutama disebabkan oleh lesunya penjualan brand Theory. Secara keseluruhan, penurunan pada bisnis Theory dipicu oleh penurunan pendapatan dan kerugian pada bisnis Theory di Amerika Serikat. Sementara itu, PLST mencatat peningkatan pendapatan yang lebih tinggi serta pertumbuhan laba dua digit pada semester I berkat kuatnya penjualan produk pakaian pria seperti kemeja rayon blend, serta koleksi Precious Knit Melton, juga lonjakan signifikan pada penjualan melalui e-commerce.