Jalan Kaki Boleh, HIIT Sebaiknya Ditunda

Bukan berarti perempuan yang menjalani pembekuan sel telur harus berhenti bergerak sama sekali.

Aktivitas ringan seperti berjalan kaki, peregangan ringan, dan olahraga berdampak rendah (low-impact) umumnya masih dapat dilakukan selama tubuh terasa nyaman dan dokter tidak memberikan larangan khusus.

Sebaliknya, aktivitas seperti berlari, melompat, high-intensity interval training (HIIT), angkat beban berat, gerakan memutar tubuh secara ekstrem, serta olahraga yang melibatkan kontak fisik kemungkinan perlu dibatasi, terutama ketika ovarium semakin membesar.

Menurut Dr. Manjunath, tingkat aktivitas yang aman dapat berubah sepanjang proses stimulasi.

"Jumlah dan ukuran folikel yang berkembang, pembesaran ovarium, gejala yang muncul, serta jarak waktu menuju pengambilan sel telur—semuanya memengaruhi tingkat aktivitas yang tepat," jelasnya.

Ia mengatakan, berjalan kaki sekitar 45 menit sehari dapat menjadi pilihan bagi sebagian pasien, dengan catatan aktivitas tersebut disesuaikan dengan kondisi dan rekomendasi dokter.

Tidak Perlu Tirah Baring Total

Salah satu kekhawatiran yang sering muncul adalah apakah perempuan harus menjalani tirah baring total selama menjalani prosedur pembekuan sel telur.

Menurut Dr. Manjunath, hal tersebut umumnya tidak diperlukan.

"Salah satu pertanyaan yang saya dengar dari hampir setiap pasien yang memulai siklus IVF atau pembekuan sel telur adalah apakah mereka perlu menjalani tirah baring total. Jawabannya adalah tidak," ujarnya.

Yang dibutuhkan biasanya adalah pembatasan aktivitas sementara, bukan berhenti bergerak sepenuhnya.

Menjelang dan setelah pengambilan sel telur, ketika ovarium biasanya berada dalam kondisi paling besar, aktivitas ringan lebih disarankan hingga rasa tidak nyaman berkurang.

Sementara itu, keputusan untuk kembali berlari, melakukan latihan kekuatan intens, atau melakukan olahraga berat lainnya sebaiknya menunggu hingga tubuh pulih dan mendapat persetujuan dari dokter spesialis kesuburan.

Pembekuan Sel Telur Bukan Jaminan Kehamilan

Hal terpenting yang perlu dipahami sebelum menjalani pembekuan sel telur adalah bahwa prosedur tersebut tidak menjamin seseorang akan hamil di masa depan.

Pembekuan sel telur memungkinkan sel telur yang masih relatif muda disimpan untuk kemungkinan digunakan di kemudian hari. Namun, proses menuju kehamilan tetap melalui sejumlah tahapan dan tidak semuanya berhasil.

Tidak semua sel telur yang dibekukan akan bertahan ketika dicairkan. Sel telur yang berhasil dicairkan pun belum tentu dapat berkembang menjadi embrio yang layak dan menghasilkan kehamilan.

Jumlah sel telur matang yang berhasil diperoleh dalam satu siklus juga menjadi salah satu pertimbangan penting.

Karena itu, konsultasi dan konseling kesuburan sebelum menjalani prosedur menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan.

Pemeriksaan cadangan ovarium dapat memberikan informasi mengenai kondisi ovarium, tetapi hasilnya juga tidak dapat digunakan untuk memprediksi kesuburan masa depan secara pasti.

Waspadai Gejala Setelah Pengambilan Sel Telur

Setelah menjalani prosedur, perempuan juga perlu memperhatikan kondisi tubuh.

Jika mengalami nyeri panggul hebat yang muncul secara tiba-tiba, pembengkakan perut yang signifikan, muntah, pusing, atau kesulitan bernapas, segera hubungi tim medis atau dokter yang menangani.

Gejala tersebut tidak sebaiknya diabaikan karena dapat membutuhkan evaluasi medis segera.

Baca Juga: Studi Kearney: Tingkat Fertilitas Indonesia Melebihi Rata-Rata Regional di Lanskap Fertilitas Asia Tenggara