Indonesia menjadi salah satu pasar utama bagi Sunway Medical Centre (SMC) Sunway City. Pasien asal Indonesia tercatat menyumbang lebih dari 50% volume pasien internasional yang menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.
Tingginya jumlah pasien dari Indonesia datang di tengah kebutuhan layanan kesehatan yang semakin kompleks. Penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit kardiovaskular, dan stroke masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Kasus PTM bahkan diproyeksikan meningkat hingga 45% pada 2050.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap layanan spesialis dan penanganan kasus kompleks turut meningkat. SMC kemudian memperkuat posisinya sebagai rumah sakit rujukan kuarterner bagi pasien dari berbagai negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Baca Juga: Bukan Cuma Teknologi Canggih, Sunway Medical Centre Perkuat Layanan Kesehatan Anak
Dengan pengalaman lebih dari 27 tahun, SMC kini memiliki kapasitas 1.090 tempat tidur dan didukung lebih dari 370 konsultan. Layanan yang tersedia mencakup lebih dari 80 subspesialisasi yang tersebar di 28 Centres of Excellence.
Rumah sakit ini menangani berbagai kebutuhan medis, mulai dari diagnostik hingga kasus kompleks di bidang hematologi, onkologi, ortopedi, kardiologi, neurologi, gastroenterologi, dan bidang lainnya.
“Seiring dengan semakin kompleksnya kebutuhan kesehatan, pasien tidak hanya mencari pengobatan semata. Mereka menginginkan keyakinan terhadap tim medis, akses tepat waktu ke spesialis yang sesuai, serta dukungan yang terkoordinasi sepanjang perjalanan kesehatan mereka,” ujar Erica Lam, Chief Executive Officer Sunway Medical Centre, Sunway City.
Untuk pasien internasional, termasuk dari Indonesia, SMC menyediakan layanan pendampingan sejak sebelum kedatangan. Fasilitas tersebut mencakup koordinasi kasus, pengaturan janji temu dengan dokter spesialis, transportasi, rawat inap, asuransi, layanan interpretasi, perpanjangan visa, hingga dukungan evakuasi medis.
Baca Juga: 3 Varian Teh Herbal Ini Ampuh Redakan Sakit Kepala dan Bikin Rileks
Dari sisi teknologi, SMC menggunakan sejumlah perangkat untuk mendukung diagnosis dan penanganan pasien. Beberapa di antaranya adalah sistem bedah robotik da Vinci Xi, Mako SmartRobotics dan Rosa Knee System untuk prosedur penggantian sendi, serta Leksell Gamma Knife untuk radiosurgery non-invasif pada kondisi otak tertentu.
SMC juga menjadi rumah sakit pertama di Asia Tenggara yang menggunakan AiBLE untuk prosedur bedah tulang belakang. Rumah sakit tersebut turut menggunakan NAEOTOM Alpha yang menjadi pemindai CT photon-counting pertama di Malaysia.
Teknologi tersebut memungkinkan pencitraan dengan detail yang lebih tinggi dan efisiensi dosis yang lebih baik. Penggunaannya mendukung penanganan di sejumlah bidang, termasuk onkologi, kardiologi, dan perawatan vaskular.
Pengalaman pasien internasional juga didukung lokasi SMC yang berada di kawasan Sunway City. Pasien dan keluarga dapat mengakses akomodasi, pusat perbelanjaan, kuliner, transportasi, serta berbagai fasilitas lainnya dalam satu kawasan.
Sunway Sanctuary juga menyediakan pilihan akomodasi bagi pasien internasional dan keluarga selama menjalani perawatan.
“Teknologi dan infrastruktur memang penting, tetapi nilai sebenarnya terletak pada bagaimana hal tersebut meningkatkan keseluruhan perjalanan pasien. Fokus kami adalah menggabungkan keahlian klinis, dukungan terkoordinasi, dan lingkungan terpadu sehingga pasien dan keluarga merasa mendapatkan informasi, dukungan, serta perhatian,” kata Erica.
Dengan tingginya proporsi pasien asal Indonesia, penguatan layanan tersebut menjadi bagian dari upaya SMC menjawab kebutuhan pasien Asia Tenggara sekaligus mendukung kerja sama kesehatan regional.