Saat langit mendung dan hujan turun, banyak orang memilih berhenti menggunakan sunscreen. Perlindungan kulit kerap dianggap hanya diperlukan ketika matahari bersinar terik dan suhu terasa panas. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Sinar ultraviolet (UV) tetap aktif sepanjang hari, termasuk di musim hujan.
Awan memang membuat cahaya matahari tampak redup, tetapi tidak sepenuhnya menghalangi radiasi UV. Sekitar 60 hingga 80 persen sinar ultraviolet masih mampu menembus awan dan mencapai permukaan kulit. Paparan ini sering kali tidak disadari karena tidak disertai sensasi panas, meski dampaknya tetap terjadi.
Baca Juga: Wajib Tahu, 10 Rekomendasi Sunscreen yang Aman Digunakan Ibu Hamil
Radiasi UV bekerja berdasarkan keberadaan cahaya matahari, bukan suhu udara. Selama siang hari masih ada cahaya, kulit tetap terpapar, bahkan ketika hujan turun.
Secara alami, kulit terpapar dua jenis sinar ultraviolet, yakni UVA dan UVB. UVA hadir sepanjang hari dan mampu menembus lapisan kulit lebih dalam. Paparan jangka panjangnya berkaitan erat dengan penuaan dini, munculnya kerutan, serta penurunan elastisitas kulit.
Sementara itu, UVB lebih sering dikaitkan dengan kulit terbakar. Meski intensitasnya menurun saat mendung, sinar ini tetap ada dan berkontribusi pada kerusakan kulit secara bertahap. Seperti dilaporkan ANTARA, sinar UV tetap dapat menembus awan dan berisiko merusak kulit meskipun matahari tidak terlihat jelas.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Sunscreen Amaterasun yang Sesuai dengan Jenis Kulit dan Kebutuhanmu
Karena itu, penggunaan sunscreen tetap diperlukan meski cuaca tampak tidak bersahabat. Sunscreen berfungsi melindungi kulit dari paparan UVA dan UVB yang bekerja sepanjang hari. Tanpa perlindungan, kulit menerima paparan UV harian secara terus-menerus.
Dampaknya memang tidak selalu langsung terlihat, tetapi akan muncul seiring waktu dalam bentuk flek hitam, warna kulit tidak merata, hingga tanda-tanda penuaan dini.
Musim hujan juga menghadirkan risiko tambahan yang kerap diabaikan, yakni pantulan sinar ultraviolet. Jalanan basah, genangan air, dan permukaan kaca dapat memantulkan sinar UV ke arah wajah dan tubuh.
Baca Juga: Apakah Penggunaan Sunscreen Benar-benar Dibutuhkan Setiap Hari?
Kondisi ini sering terjadi saat berkendara atau berjalan di area perkotaan. Meski cuaca tampak gelap dan tidak terik, kulit tetap bisa terpapar dari pantulan tersebut.
Paparan sinar UV juga tidak selalu terjadi dalam aktivitas luar ruangan yang lama. Kegiatan sehari-hari seperti berjalan dari area parkir ke kantor, duduk di dekat jendela, atau berkendara di siang hari tetap memungkinkan sinar UVA mengenai kulit.
Oleh sebab itu, sunscreen sebaiknya diperlakukan sebagai bagian dari rutinitas harian, bukan hanya perlengkapan tambahan saat beraktivitas di bawah terik matahari.
Baca Juga: Penjualan Sunscreen di E-commerce Melesat Pesat di Kuartal I 2024: Capai 99% ke Level Rp424 Miliar
Agar tetap nyaman digunakan di musim hujan, sunscreen dengan perlindungan broad spectrum yang melindungi dari UVA dan UVB bisa menjadi pilihan utama. SPF minimal 30 sudah cukup untuk aktivitas harian.
Tekstur ringan seperti gel atau lotion berbasis air lebih nyaman dipakai saat udara lembap, sementara formula water resistant membantu perlindungan tetap bertahan meski terkena keringat atau hujan ringan. Untuk aktivitas luar ruangan yang lebih lama, pengaplikasian ulang setiap dua hingga tiga jam tetap disarankan.
Sunscreen bukan produk musiman yang hanya dibutuhkan saat cuaca panas. Ia merupakan perlindungan dasar bagi kulit yang diperlukan sepanjang tahun. Cuaca boleh berubah, tetapi paparan sinar ultraviolet tetap ada. Konsistensi menggunakan sunscreen setiap hari menjadi langkah sederhana, namun penting untuk menjaga kesehatan kulit dan mencegah kerusakan yang kerap baru terlihat setelah bertahun-tahun.