Paguyuban meminta pemerintah tidak hanya melihat persoalan dari sisi produsen bahan baku, tetapi juga melihat kondisi pengguna bahan baku.
“Yang memakai benang dan plastik ini banyak sekali. Ada pabrik, IKM, UMKM, konveksi, sampai usaha kecil. Kalau harga bahan baku naik, dampaknya bisa ke mana-mana,” ujar Iqbal.
Ia menambahkan, kondisi usaha saat ini juga belum sepenuhnya mudah. Pelaku usaha masih menghadapi persaingan ketat, biaya listrik, upah, logistik, dan tekanan harga dari pembeli.
“Jangan tambah beban lagi. Yang kami butuhkan sekarang justru bahan baku yang murah dan stabil supaya usaha tetap hidup,” tegasnya.
Paguyuban menegaskan bahwa industri hilir tetap mendukung penggunaan produk dalam negeri.
Namun, produk lokal harus mampu bersaing dari sisi harga, kualitas, dan ketersediaan barang.
“Kami siap beli dari dalam negeri. Tapi jangan dipaksa kalau harganya jauh lebih mahal. Kami juga harus hitung supaya usaha masih untung dan pekerja tetap bisa digaji,” ujar Iqbal.
Menurutnya, langkah yang lebih baik adalah mempertemukan produsen bahan baku dan pengguna untuk mencari harga dan pola pasokan yang sama-sama menguntungkan.
“Kalau hulunya sehat, hilirnya juga harus sehat. Jangan hulunya ditolong tapi hilirnya malah sesak,” katanya.
Paguyuban berharap pemerintah mengambil keputusan yang benar-benar mempertimbangkan keberlangsungan usaha dan tenaga kerja.
“Bagi kami persoalannya sederhana. Jangan sampai harga bahan baku naik, usaha terganggu, lalu pekerja kehilangan pekerjaan. Kami ingin pabrik tetap jalan, pesanan tetap ada, dan orang tetap bisa bekerja,” tutup Iqbal.