Sebagai informasi, sebanyak 30 grup terbaik hasil kurasi dari 13 kota akan tampil di grand final pada 25 April 2026. Sementara itu, program The Audition Pagelaran Sabang Merauke yang telah berjalan sejak 2024 kembali menjaring talenta penari dari berbagai daerah.

Tahun ini, sebanyak 676 peserta dari 84 kota/kabupaten mengikuti proses seleksi, yang kemudian menghasilkan 50 finalis untuk tampil di babak akhir pada 26 April 2026. Dari jumlah tersebut, 27 penari terpilih akan menjalani pelatihan intensif selama tiga bulan di Yogyakarta sebelum terlibat dalam produksi utama.

Sutradara Pagelaran Sabang Merauke, Rusmedie Agus, menekankan bahwa proses seleksi dilakukan secara mendalam, tidak hanya menilai kemampuan teknis, tetapi juga pemahaman artistik.

“Melihat besarnya antusiasme tahun ini, proses kurasi kami lakukan secara berlapis dengan fokus tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada pemahaman musik, kekuatan konsep, hingga cara peserta menyampaikan pesan di atas panggung. Para peserta terpilih bukan hanya unggul dalam kompetisi, tetapi juga siap memberikan performa terbaiknya sebagai pelaku seni,” jelasnya.

Hal senada disampaikan oleh koreografer Sandidhea Cahyo, yang menyoroti tantangan dalam menyatukan keragaman latar belakang peserta.

“Semakin tahun antusiasme para penari dari seluruh Indonesia terus meningkat, menghadirkan rasa haru sekaligus kebanggaan bagi kami. Namun di sisi lain, hal ini juga menjadi tantangan tersendiri untuk mampu mengharmonisasikan beragam perbedaan tersebut ke dalam satu kesatuan yang utuh,” ujarnya.

Tak hanya kompetisi dan audisi, rangkaian ini juga menghadirkan Parade “Inspirasi Diri” pada 26 April 2026 di kawasan Car Free Day Jakarta, dari Bundaran HI hingga Menara BCA. Parade ini melibatkan ratusan penari serta kolaborasi lintas seni, mulai dari orkestra, paduan suara, hingga pertunjukan budaya lainnya.

Dalam perspektif musik, penyanyi Yura Yunita yang membawakan lagu “Inspirasi Diri” melihat bahwa musik memiliki peran penting sebagai pintu masuk untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda.

“Menurut saya, musik itu jadi pintu masuk yang paling natural. Begitu orang sudah merasa terhubung dengan musiknya, biasanya mereka jadi lebih terbuka untuk mengeksplorasi hal lain di dalamnya, termasuk budaya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pendekatan lintas medium menjadi kunci dalam membangun koneksi yang lebih kuat.

“Di rangkaian ini, musik tidak berdiri sendiri, tapi diterjemahkan ke dalam gerak, visual, dan ekspresi. Jadi pendekatannya bukan mengajarkan budaya secara langsung, tapi membuat mereka mengalami dan merasakannya,” kata Yura.

Sementara itu, Raisa Andriana yang turut menjadi juri dalam The Audition menilai bahwa kekuatan seni terletak pada kemampuannya menyampaikan “rasa” yang universal.

“Dalam semua bentuk seni, kita bisa sama-sama merasakan jiwanya. Jadi meskipun bentuknya berbeda, rasa itu tetap bisa tersampaikan dan dirasakan lewat tarian yang mereka bawakan,” pungkas Raisa.

Baca Juga: Dari Kostum Jember hingga Orkestra, Pagelaran Sabang Merauke - The Indonesian Broadway Curi Perhatian di CFD Jakarta