Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama mulai memberi sinyal akan kembali lebih aktif dalam politik menjelang Pemilihan Presiden AS 2028. Dalam sebuah acara penggalangan dana Partai Demokrat, Obama mengungkap isu yang disebutnya bakal menjadi salah satu agenda utama jika dirinya kembali maju sebagai calon presiden.
Isu tersebut adalah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Pandangan Obama itu muncul ketika ia membahas perkembangan teknologi yang dinilainya akan sangat menentukan masa depan Amerika Serikat. Pernyataannya pun dipandang sebagai sinyal bahwa ia berpotensi memainkan peran lebih besar dalam pemilu 2028.
Baca Juga: Tips Karier dari Barack Obama: Fokus Menyelesaikan Pekerjaan dengan Baik
Dikutip dari Politico dan The New York Times, Selasa (15/9/2026), Obama mengatakan pengembangan AI akan menjadi salah satu fokus utamanya apabila kembali mencalonkan diri sebagai presiden.
"Saya akan punya rencana yang jelas, saya mau terus berbicara soal ini, dan saya akan membeberkan rencana soal keselamatan. Ini rencana kami untuk memastikan anak-anak tidak terdampak," kata Obama.
Menurut Obama, perkembangan AI tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan teknologi. Ada dampak sosial dan ekonomi yang harus dipikirkan sejak sekarang, terutama jika perkembangan teknologi tersebut tidak diikuti aturan yang memadai.
Ia mengingatkan AI berpotensi memperlebar kesenjangan sosial, menggeser sejumlah lapangan pekerjaan, hingga mengancam kebebasan masyarakat. Karena itu, menurut Obama, manfaat teknologi tersebut tidak boleh hanya dinikmati kelompok tertentu.
"Ini bukan sekadar soal teknologi. Ini soal siapa yang memegang kendali, siapa yang mengambil keuntungan, dan siapa yang dilindungi oleh aturan tersebut," ujar Obama.
Obama menilai pemerintah perlu memastikan perkembangan AI tetap memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Perlindungan pekerjaan, akses teknologi yang lebih setara, hingga keamanan data pribadi menjadi sejumlah persoalan yang menurutnya tidak boleh diabaikan.
"Jika kita membiarkan hal ini berjalan tanpa arah, maka yang akan terjadi adalah semakin kaya mereka yang sudah kaya, dan semakin tertinggal mereka yang kurang beruntung," lanjutnya.
Obama bahkan membandingkan perkembangan AI dengan teknologi nuklir. Menurut dia, AI memiliki karakter yang berbeda karena tidak memiliki batasan fisik seperti teknologi nuklir dan pengembangannya kini banyak berada di tangan perusahaan swasta.
Di Washington, perdebatan mengenai regulasi AI sendiri masih berlangsung. Kongres AS telah beberapa kali mencoba merumuskan aturan untuk mengendalikan atau memperlambat perkembangan AI, tetapi belum menghasilkan kesepakatan yang kuat.
Salah satu persoalan yang masih menjadi perdebatan adalah seberapa besar tanggung jawab perusahaan pengembang AI terhadap dampak maupun kerugian yang muncul dari teknologi tersebut.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengambil pendekatan berbeda. Trump disebut tidak terlalu mempersoalkan ancaman AI dan lebih menekankan ambisi agar Amerika Serikat tidak kalah dari China dalam persaingan teknologi tersebut.
Pernyataan Obama soal AI pun menjadi menarik karena muncul menjelang siklus Pilpres AS 2028. Meski belum secara resmi menyatakan akan kembali mencalonkan diri, Obama sudah mulai mengemukakan isu yang ingin ia dorong apabila kembali berada di panggung politik nasional.