Pemerintah Indonesia masih terus berupaya melakukan negosiasi dengan otoritas Iran untuk mengeluarkan kapal PT Pertamina (Persero) yang sampai sekarang masih tertahan di Selat Hormuz.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, sejauh ini pihaknya masih berupaya melakukan negosiasi, namun perundingan belum menunjukan kemajuan yang berarti. Tensi Timur Tengah yang masih naik turun bikin kapal pengangkut minyak itu sukar keluar dari Selat Hormuz.
Baca Juga: Selat Hormuz Tetap Dibuka, Kapal AS dan Israel Dilarang Lewat
“Kita masih komunikasi terus. Memang tidak mudah untuk kita bisa melakukan bagaimana caranya agar kapal kita keluar dari Selat Hormuz, tapi komunikasi terus kita bangun,"ujar Bahlil usai Rapat di Kemenko Perekonomian dilansir Sabtu (28/3/2026).
Diketahui ada empat kapal Pertamina terjebak di Selat Hormuz setelah perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel pecah beberapa pekan lalu. Dari jumlah itu dua diantara telah berhasil dievakuasi.
Kedua kapal Pertamina yang sudah lolos dari Selat Hormuz adalah International Shipping (PIS) Rinjani dan PIS Paragon. Kedua kapal itu kini sedang dalam pelayaran menuju Tanah Air.
Sementara dua kapal yang masih terjebak adalah PIS Pertamina Pride dan Gamsunoro.
“(Kedua kapal itu) masih berada di Teluk Arab atau Teluk Persia, belum dapat melalui Selat Hormuz," kata Pjs Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping (PIS), Vega Pita.
Menurut Vega, PIS terus melakukan koordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia guna memastikan kedua kapal dapat segera melintasi wilayah tersebut secara aman.
Baca Juga: Wanti-wanti Krisis BBM di Tengah Penutupan Selat Hormuz
Ia menegaskan keselamatan awak kapal serta keamanan kapal dan muatan menjadi prioritas utama perusahaan dalam menghadapi situasi ini.
"Kami mohon dukungan dari seluruh masyarakat," terangnya.