Badan Gizi Nasional (BGN) langsung melakukan sejumlah penyesuaian kebijakan setelah pergantian kepemimpinan di tubuh lembaga tersebut. Pergantian terjadi setelah Dadan Hindayana, Sony Sonjaya, dan Lodewyk Pusung diberhentikan usai ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang tengah ditangani Kejaksaan Agung.
Kini BGN dipimpin oleh Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN, didampingi Agustina Arumsari dan Mayjen Trenggono sebagai wakil kepala. Tak lama setelah resmi menjabat, jajaran pimpinan baru langsung mengumumkan sejumlah perubahan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Salah satu fokus utama yang diusung adalah efisiensi anggaran sekaligus perbaikan kualitas program.
Baca Juga: APJI Dukung Kepala BGN Nanik S Deyang Perbaiki Juknis dan Operasional MBG
Moratorium Pembangunan Dapur Baru
Nanik mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memperbaiki pelaksanaan MBG. Salah satunya adalah menghentikan sementara pendaftaran dan pembangunan dapur baru.
"Hal utama yang telah kami bahas dan kami siapkan rencana kerjanya adalah menuju pada efisiensi anggaran," kata Nanik dalam konferensi pers di Gedung BGN, Jakarta, yang dikutip Olenka pada Sabtu (06/06/2026).
Menurutnya, terdapat empat langkah utama yang akan dijalankan. Pertama, melakukan refocusing penerima manfaat agar program lebih tepat sasaran. Kedua, menerapkan moratorium terhadap titik-titik dapur baru.
Baca Juga: Skandal Korupsi MBG, Sony Sonjaya Mulai ‘Nyanyi’ Ungkap Nama-nama Besar
"Dalam rangka efisiensi anggaran maka hal yang kami lakukan adalah pertama refocusing penerima manfaat. Dua, moratorium dapur titik-titik baru," ujarnya.
Langkah ketiga berupa pembenahan dapur yang telah beroperasi, termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang terlibat dalam program tersebut. Sementara langkah keempat adalah memperluas jangkauan MBG ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) melalui skema yang lebih efisien dan tidak sepenuhnya bergantung pada APBN.
Nanik menjelaskan bahwa kebijakan moratorium diambil karena BGN ingin terlebih dahulu mengevaluasi serta merapikan dapur yang telah beroperasi. Saat ini jumlah dapur MBG aktif telah mencapai lebih dari 27 ribu unit.
Baca Juga: Terungkap! Ini Alasan Prabowo Pilih Nanik Pimpin BGN Usai Tendang Dadan Hindayana
"Nah saat ini sudah ada sekitar 27 ribu lebih dapur yang operasional. Kami akan beresin dulu ini. Misalnya di satu kecamatan ini cukup kok enam saja. Sudah, enam saja. Jadi moratorium," katanya.
Selain itu, ia menilai distribusi dapur MBG saat ini belum merata. Sebagian besar masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan kawasan aglomerasi, sedangkan sejumlah daerah 3T belum mendapatkan layanan secara optimal.
"Jujur sekarang yang numpuk ini di aglomerasi, yang 3T belum kesentuh. Jadi Pak Presiden pesannya kami harus ke 3T dulu," ujarnya.
Tak Lagi Mengejar Kuantitas
Perubahan lain yang dilakukan BGN adalah menggeser fokus dari target jumlah penerima manfaat menuju peningkatan kualitas pelaksanaan program.
Nanik mengungkapkan bahwa dirinya bersama dua wakil kepala BGN telah menyampaikan langsung kepada Presiden bahwa lembaga tersebut tidak lagi menjadikan target 82,9 juta penerima MBG pada 2026 sebagai prioritas utama.
Baca Juga: Daftar Kekayaan Nanik S Deyang, Nahkoda Baru Badan Gizi Nasional
"Nah, jadi gini dampaknya, kemarin kami bertiga dipanggil Presiden dan kami sudah menyampaikan ke beliau, tahun 2026 ini mohon Bapak kami tidak mengejar kuantitas. Kami akan perbaiki kualitas, sehingga bisa jadi kami tidak akan mengejar ke 82 juta. Tapi bagaimana dapur-dapur ini sehat, memberikan makan yang bergizi," kata Nanik.
Menurutnya, fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh dapur MBG memenuhi standar kesehatan dan kualitas makanan. Dapur yang tidak memenuhi standar akan dievaluasi dan berpotensi dikenai penghentian operasional sementara.
Selain itu, BGN juga akan memperkuat pelatihan bagi SDM yang bertugas di dapur MBG agar kualitas pelayanan dan kandungan gizi makanan yang disajikan dapat lebih terjamin.
Baca Juga: Mengulik Rekam Jejak Nanik S Deyang, Kepala Baru Badan Gizi Nasional
Fokus pada Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita
Dalam strategi baru tersebut, BGN juga akan memberikan perhatian lebih besar kepada kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
"Kita fokuskan adalah ke 3T dan terutama untuk 3B," ujar Nanik.
Ia menjelaskan bahwa kebijakan tersebut didasarkan pada masukan dari para ahli gizi dan dokter anak. Menurut para pakar, periode paling penting untuk intervensi gizi berlangsung sejak masa kehamilan hingga anak berusia sekitar sembilan tahun atau setara usia sekolah dasar.
"Bahwa mereka itu mengatakan bahwa intervensi gizi itu paling bagus adalah saat mulai kandungan bulan pertama sampai usia 9 tahun atau sampai SD. Nah, kita yang kejar ke sana," katanya.
Sekolah Mampu Akan Dievaluasi
BGN juga berencana melakukan penataan ulang terhadap kelompok penerima manfaat program MBG. Salah satu yang akan dievaluasi adalah sekolah-sekolah yang berasal dari kelompok ekonomi mampu.
"Nah, lalu refocusing. Misalnya nanti akan kita juga kalau ada sekolah-sekolah yang mahal gitu kan kita tanya apakah masih perlu MBG? Nah ini yang kita alihkan ke 3T," kata Nanik.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar program dapat lebih tepat sasaran dan menjangkau kelompok yang benar-benar membutuhkan.
"Jadi bisa aja sebetulnya penerima manfaatnya bertambah, tapi tambahannya ini sebetulnya mengurangi dari yang tidak fokus mungkin selama ini," ujarnya.
Nanik kembali menegaskan bahwa wilayah 3T akan menjadi prioritas utama dalam pengembangan program ke depan. Pasalnya, hingga saat ini banyak dapur MBG justru terkonsentrasi di wilayah aglomerasi dan perkotaan.
"Jujur sekarang yang numpuk ini di aglomerasi, yang 3T belum kesentuh. Jadi Pak Presiden pesannya kami harus ke 3T dulu," tutupnya.