Growthmates, pasti kamu pernah merasakan suasana hati yang tiba-tiba berubah, kan? Awalnya merasa senang dan bersemangat, lalu mendadak jadi sedih, kesal, atau sensitif tanpa alasan yang jelas. 

Kondisi [erubahan suasana hati atau mood swing ini sebenarnya cukup umum terjadi dan bisa dipicu oleh banyak faktor, mulai dari stres sehari-hari hingga gangguan kesehatan mental tertentu.

Melansir dari laman Health, Minggu (10/5/2026), setiap orang pada dasarnya mengalami perubahan emosi sepanjang hari tergantung aktivitas dan situasi yang dihadapi. Namun, pada beberapa kondisi, perubahan suasana hati bisa terasa lebih intens hingga memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Mood swing sering digambarkan seperti naik roller coaster emosional. Seseorang bisa merasa sangat bersemangat, lalu tiba-tiba berubah menjadi sedih, kesal, atau kewalahan.

Gejala yang muncul juga bisa berbeda-beda pada setiap orang, tergantung penyebabnya. Pada kondisi yang lebih berat, mood swing dapat disertai sulit berkonsentrasi, pikiran yang terasa berpacu, perubahan energi secara drastis, gangguan tidur, perubahan pola makan, kehilangan minat terhadap aktivitas, hingga muncul rasa bersalah atau tidak berharga.

Dalam beberapa kasus, terutama pada orang dengan gangguan kesehatan mental tertentu, perubahan suasana hati yang ekstrem juga dapat memicu pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri. Karena itu, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele.

Apa yang Bisa Memicu Mood Swing?

Berikut beberapa penyebab perubahan suasana hati yang paling umum:

1. Gangguan bipolar

Gangguan bipolar merupakan salah satu penyebab mood swing paling umum. Kondisi kesehatan mental ini menyebabkan perubahan emosi dan energi yang sangat ekstrem, mulai dari fase sangat bersemangat (mania) hingga depresi. 

Mengutip dari laman Psychiatry,  80 hingga 90 persen individu dengan gangguan bipolar memiliki kerabat yang juga menderita gangguan bipolar atau depresi. Faktor lingkungan seperti stres, gangguan tidur, dan obat-obatan serta alkohol dapat memicu episode perubahan suasana hati pada orang yang rentan. 

Meskipun penyebab spesifik gangguan bipolar belum jelas, terdapat faktor biologis, termasuk riwayat keluarga gangguan suasana hati, gangguan psikotik, dan penyalahgunaan zat, serta faktor lingkungan yang meningkatkan risiko gangguan bipolar. Usia rata-rata onset adalah sekitar pertengahan 20-an.

2. Borderline Personality Disorder (BPD)

Gangguan kepribadian ambang membuat seseorang mengalami perubahan emosi yang intens dan cepat, termasuk perubahan perasaan terhadap orang lain. Hari ini bisa merasa sangat dekat dengan seseorang, lalu keesokan harinya berubah menjadi marah atau tidak menyukainya.

3. Depresi

Depresi bukan hanya membuat suasana hati sedih berkepanjangan, tetapi juga dapat memicu rasa mudah marah, gelisah, impulsif, dan perubahan perilaku lainnya.

Menukil dari laman National Institute of Mental Health, depresi dapat menyebabkan gejala parah yang memengaruhi perasaan, pikiran, dan cara seseorang dalam menangani aktivitas sehari-hari, seperti tidur, makan, atau bekerja. 

Ini adalah penyakit yang dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia, ras, pendapatan, budaya, atau pendidikan. Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik, biologis, lingkungan, dan psikologis berperan dalam depresi.

4. Gangguan kesehatan mental lainnya

Dalam laman Health juga disebutkan, kondisi seperti ADHD, PTSD, hingga skizofrenia juga dapat menyebabkan perubahan suasana hati. Pada ADHD, misalnya, seseorang bisa mengalami energi berlebih, bicara cepat, dan sulit tidur sehingga kerap disalahartikan sebagai bipolar.

5. Kebiasaan gaya hidup

Kurang tidur, konsumsi kafein berlebihan, hingga penggunaan zat adiktif dapat memengaruhi suasana hati. Orang yang kurang tidur biasanya lebih mudah marah dan sensitif secara emosional.

Kapan Mood Swing Perlu Diwaspadai?

Mood swing yang terjadi sesekali akibat stres atau kelelahan umumnya masih tergolong normal. Namun, jika perubahan suasana hati terjadi terlalu sering, terasa sangat intens, mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, pekerjaan, atau disertai keinginan menyakiti diri sendiri, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Menjaga pola tidur, mengelola stres, rutin berolahraga, dan menjaga pola makan sehat juga dapat membantu menjaga kestabilan suasana hati sehari-hari.