Growthmates, pernah nggak sih ada di fase merasa apa pun yang kamu lakukan selalu kurang?
Sudah berusaha maksimal, tapi tetap saja ada yang terasa belum cukup. Standar yang kamu pasang untuk diri sendiri terasa tinggi, dan anehnya, terus naik tanpa henti atau dengan kata lain ingin terlihat perfeksionis.
Sekilas, keinginan untuk melakukan segalanya dengan sempurna memang terlihat seperti hal yang positif. Tapi kalau dibiarkan, dorongan ini justru bisa berubah menjadi tekanan yang pelan-pelan menguras mental.
Perfeksionisme bukan sekadar ingin jadi lebih baik. Dalam banyak kasus, ia justru membuat seseorang terjebak dalam pola pikir yang tidak sehat, demi terlihat atau merasa “sempurna”.
Seseorang dengan kepribadian perfeksionis, mungkin terdengar bagus. Tetapi, jika terlalu ‘menghalalkan’ banyak cara untuk terlihat sempurna, tampaknya tidak baik juga untuk kesehatan mental.
Berikut Olenka rangkum dari berbagai sumber, Selasa (31/3/2026), deretan dampak buruk dari terlalu ingin "harus sempurna" atau perfeksionis bagi kesehatan mental.
1. Terjebak dalam Pikiran Berlebihan
Berusaha mencapai kesempurnaan sering kali membuat seseorang terjebak dalam lingkaran pemikiran yang tidak ada habisnya. Menukil dari laman Mindful Health Solutions, mereka cenderung terus memikirkan berbagai kemungkinan, termasuk skenario terburuk yang belum tentu terjadi.
Akibatnya, muncul keraguan berlebihan yang justru membuat mereka sulit mengambil keputusan. Kondisi ini bisa memicu stres dan kecemasan yang semakin meningkat seiring waktu
2. Kecemasan dan Depresi
Perfeksionisme juga berkaitan erat dengan meningkatnya risiko kecemasan dan depresi. Ketika standar yang ditetapkan terlalu tinggi dan sulit dicapai, tekanan emosional pun ikut meningkat.
Sebagian orang bahkan menyembunyikan perasaan ini dan tetap terlihat “baik-baik saja”. Padahal, di dalamnya, mereka bisa saja merasa tidak berharga atau kehilangan arah. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius jika tidak disadari sejak awal.