Bagi Mendiang Ciputra, hidup bukanlah tentang menunggu belas kasihan atau berharap orang lain membuka pintu kesempatan.

Hidup, menurutnya, adalah tentang keberanian menciptakan jalan sendiri, bahkan ketika tidak memiliki apa-apa.

Prinsip itu bukan sekadar teori. Ia lahir dari pengalaman hidup panjang yang dimulai dari keterbatasan sejak usia sangat muda.

“Kita bukan meminta peluang, kita jangan meminta kesempatan. Kita harus menciptakan kesempatan untuk sendiri,” papar Ciputra, dalam sebuah video, sebagaimana dikutip Olenka, Selasa (20/1/2026).

Sejak kecil, Ciputra sudah memahami satu hal penting: bergantung pada orang lain hanya akan membuat kita lemah. Ia tidak pernah berharap perhatian atau rasa kasihan datang dari luar.

“Jangan mengharapkan orang lain punya belas kasihan kepada kita. Jangan mengharapkan orang lain memperhatikan kita,” tegasnya.

Ia bahkan mengingat betul masa-masa ketika hidup benar-benar tanpa pegangan.

“Saya tamat, Pak. Tidak punya uang apa-apa,” ungkapnya.

Namun, kondisi itu tidak membuatnya berhenti. Justru sebaliknya. Sejak sekolah dasar, Ciputra sudah bekerja membantu ayahnya di perusahaan kecil milik keluarga.

Saat SMP, ia pun mulai berusaha sendiri. Ketika SMA di Manado, semangat mandiri itu tetap melekat. Bahkan ketika sudah duduk di bangku universitas, ia tidak menunggu lulus untuk mulai melangkah.

“Saya sudah bekerja waktu saya di sekolah dasar. Saya sudah bekerja dengan ayah saya untuk perusahaan sendiri. Saya SMP, saya berusaha sendiri. Kemudian saya sudah di universitas, universitas saya sudah punya perusahaan sendiri, Pak,” bebernya.

Baca Juga: Kisah Perjalanan Jiwa Ciputra: Ditempa Derita, Disentuh Tangan Tuhan

Pendidikan arsitektur yang ia tempuh awalnya mengarahkannya pada jalur profesional yang umum, yakni menjadi arsitek pencari proyek.

Namun, di titik itulah ia menyadari satu hal penting bahwasanya ketergantungan pada orang lain bukan jalan yang ia inginkan.

“Waktu saya di sekolah, saya diajar menjadi arsitek. Setelah tamat saya jadi arsitek. Arsitek mencari pekerjaan. Saya tergantung dari orang lain,” tuturnya jujur.

Meski mungkin saja ia bisa mendapatkan proyek, Ciputra menolak jalan pintas berupa mengemis atau menunggu belas kasih.

“Ya mungkin saya punya proyek, tapi saya tidak mengemis minta proyek,” tegasnya.

Ia pun memilih jalan yang lebih sulit, tetapi lebih bermartabat, yakni membangun kemampuan sendiri dan menciptakan peluang sendiri.

“Tidak, saya menciptakan kemampuan saya sendiri,” tukasnya.

Menurutnya, dari situlah lahir keputusan besar yang mengubah hidupnya, ia tidak hanya menjadi arsitek, tetapi menjadi pengembang (developer).

Ya, Ciputra menciptakan proyek, bukan menunggu proyek. Ia menjadi pencipta lapangan kerja, bukan pencari kerja.

“Maka saya jadi developer, saya mulai proyek tersebut. Nah, kemudian saya cari arsitek untuk melaksanakan,” tandas Ciputra.

Baca Juga: Kisah Pertarungan Hidup Ciputra: Keringat, Air Mata, dan Nyawa di Balik Proyek Senen