Nama Pham Nhat Vuong belakangan menjadi perhatian publik. Sosok di balik layanan taksi listrik Green SM itu kembali ramai diperbincangkan setelah salah satu unit taksinya terlibat dalam insiden kecelakaan kereta api di Bekasi, Jawa Barat.

Peristiwa tersebut membuat banyak orang penasaran terhadap perusahaan transportasi listrik tersebut sekaligus figur besar yang berada di belakangnya.

Di balik sorotan itu, Pham Nhat Vuong ternyata bukan sosok biasa. Ia kini dikenal sebagai orang terkaya di Asia Tenggara.

Berdasarkan data real time billionaires Forbes per Mei 2026, kekayaan Vuong mencapai sekitar US$36,3 miliar atau setara lebih dari Rp590 triliun. Jumlah tersebut menempatkannya di jajaran 60 orang terkaya dunia.

Dan, dikutip dari berbagai sumber pada Kamis (7/5/2026), berikut Olenka ulas profil lengkap Pham Nhat Vuong selengkapnya.

Latar Belakang Keluarga

Dikutip dari Forbes, Pham Nhat Vuong lahir pada 5 Agustus 1968 di Haiphong dan tumbuh besar di Hanoi di tengah situasi Vietnam yang masih dilanda dampak perang dan kesulitan ekonomi.

Ayahnya merupakan anggota divisi pertahanan udara Angkatan Darat Vietnam, sementara ibunya menjalankan toko teh kecil demi membantu kebutuhan keluarga.

Meski hidup dalam keterbatasan, Vuong dikenal sebagai anak yang cerdas, terutama dalam bidang matematika. Dalam wawancara dengan Forbes, ia mengaku masa kecilnya dipenuhi keinginan sederhana yakni membantu keluarganya keluar dari kemiskinan.

Pham Nhat Vuong diketahui menempuh pendidikan di SMA Kim Lien sebelum melanjutkan studi di Universitas Pertambangan dan Geologi Hanoi.

Berkat prestasi akademiknya, ia pun memperoleh beasiswa ke Moscow Geological Prospecting Institute dan lulus pada 1992 dengan jurusan geologi.

Merintis Bisnis Mie Instan di Ukraina

Setelah menyelesaikan pendidikan di Rusia, Vuong tidak langsung kembali ke Vietnam. Ia bersama istrinya, Pham Thu Huong, pindah ke Kharkiv ketika Uni Soviet runtuh dan kondisi ekonomi di kawasan tersebut sedang tidak stabil.

Dengan modal pinjaman sekitar US$10 ribu dari keluarga dan kerabat, pasangan ini membuka restoran kecil yang menjual makanan Vietnam. Dari usaha sederhana itu, Vuong melihat peluang besar pada bisnis makanan murah, terutama mie instan.

Pada 1993, ia mendirikan Technocom, perusahaan makanan yang memproduksi mie instan bermerek Mivina. Produk tersebut dengan cepat menjadi populer dan menguasai pasar Ukraina.

Dikutip dari Forbes, bisnis Technocom berkembang menjadi salah satu produsen makanan instan terbesar di kawasan Eropa Timur sebelum akhirnya dijual kepada Nestlé pada 2010 dengan nilai sekitar US$150 juta.

Keberhasilan bisnis mie instan inilah yang menjadi fondasi awal kekayaan Vuong.

Pulang ke Vietnam dan Membangun Vingroup

Setelah sukses di Ukraina, Vuong kembali ke Vietnam dan mulai berinvestasi di sektor properti serta pariwisata. Proyek awalnya adalah Vinpearl Resort Nha Trang yang dibuka pada 2003 dan proyek properti Vincom City Towers di Hanoi pada 2004.

Dua bisnis tersebut kemudian berkembang menjadi Vingroup pada 2007. Kini, Vingroup dikenal sebagai konglomerasi swasta terbesar di Vietnam dengan bisnis yang sangat luas, mulai dari properti, pusat perbelanjaan, teknologi, pendidikan, kesehatan, hingga otomotif.

Baca Juga: Konglomerat Vietnam Pham Nhat Vuong Jadi Orang Terkaya di Asia Tenggara