Pada metode fortifikasi yang menempatkan zat gizi di permukaan buliran, seperti coating atau dusting, proses pencucian berpotensi menyebabkan sebagian fortifikan larut dan ikut terbuang bersama air cucian. Artinya, teknologi yang digunakan sejak awal turut menentukan seberapa banyak zat gizi tambahan yang dapat dipertahankan hingga akhirnya dikonsumsi.

Namun, pengembangan beras fortifikasi tidak berhenti pada pemilihan teknologi. Menurut Dr. Puspo, perilaku konsumen juga perlu menjadi pertimbangan dalam merancang sistem fortifikasi. Kebiasaan mencuci dan mengolah beras, misalnya, perlu diperhitungkan agar kadar zat gizi yang tersisa setelah pengolahan tetap sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Tantangan lainnya berkaitan dengan penguatan ekosistem fortifikasi. Akses terhadap teknologi dan modal menjadi faktor penting agar penerapan fortifikasi tidak hanya dapat dilakukan oleh produsen berskala besar. Di sisi lain, ketersediaan bahan fortifikan di dalam negeri juga perlu diperkuat mengingat sebagian vitamin dan mineral masih bergantung pada pasokan impor.

Dari sisi pengujian, aspek pengambilan sampel juga menjadi perhatian. Dr. Puspo menjelaskan bahwa rasio pencampuran fortifikan dengan beras dapat mencapai 1:100. Karena itu, sampel yang digunakan dalam pengujian harus benar-benar mampu mewakili keseluruhan produk.

“Kalau pencampurannya tidak merata dan sampelnya tidak representatif, hasil analisis dapat menggambarkan kondisi yang tidak sesuai dengan keseluruhan produk,” jelasnya.

Selain proses produksi dan pengujian, masa penyimpanan juga perlu diperhitungkan. Setiap vitamin dan mineral memiliki tingkat stabilitas yang berbeda sehingga laju penurunannya selama penyimpanan tidak selalu sama. Kondisi tersebut dapat menyebabkan satu komponen masih memenuhi standar, sementara komponen lainnya telah mengalami penurunan kadar.

“Karena itu, perlu kajian berbasis data untuk memodelkan perubahan kadar fortifikan selama produksi, distribusi, dan penyimpanan. Hasil kajian tersebut selanjutnya diterjemahkan menjadi rekomendasi teknis bagi produsen. Dengan demikian, diharapkan penerapan beras fortifikasi dapat dilakukan secara konsisten dalam skala besar dan memberikan manfaat gizi bagi masyarakat,” tandas Dr. Puspo.

Baca Juga: Top! Stok Beras Tanah Air Tertinggi Sepanjang Sejarah