"Fokusnya bukan hapalan rumus, tapi strategi negosiasi dan kepemimpinan," katanya.
Selain materi pembelajaran, Ferry juga menyoroti pentingnya lingkungan sosial yang terbentuk di sekolah-sekolah tersebut.
Ia pun meyakini bahwa salah satu aset terbesar yang diperoleh para siswa adalah jaringan pertemanan yang dapat membuka peluang besar di masa depan.
"Di sekolah biasa, kalian cari teman main. Di sana, mereka bangun global network. Teman sebangku mereka adalah calon partner bisnis atau penguasa masa depan. Ini namanya membeli masa depan lewat koneksi," jelas Ferry.
Kemudian, Ferry menambahkan bahwa bagi keluarga-keluarga dengan sumber daya finansial besar, biaya pendidikan yang mencapai miliaran rupiah dipandang sebagai investasi, bukan sekadar pengeluaran.
Nilai utama yang dicari bukan hanya ijazah, melainkan akses, relasi, dan efisiensi waktu yang dapat memberikan manfaat jauh lebih besar dalam jangka panjang.
"Bagi mereka, uang miliar itu investasi kecil dibanding value waktu dan akses yang didapat. Karena ingat, time is more valuable than money. Sekolah itu investasi aset, bukan cuma cari gelar," tutup Ferry.
Baca Juga: Mengapa Orang Terkaya di Dunia Punya Yayasan? Pakar Ungkap Strategi di Baliknya