Biaya pendidikan di sekolah-sekolah elite dunia kerap menjadi sorotan. Tak sedikit institusi pendidikan yang mematok biaya hingga miliaran rupiah per tahun.

Bagi sebagian orang, angka tersebut terdengar sulit dipahami, apalagi jika dibandingkan dengan kurikulum yang sekilas terlihat tidak jauh berbeda dengan sekolah pada umumnya.

Namun, menurut Praktisi Bisnis dan Pakar Pemasaran, Ferry Dafira, tingginya biaya sekolah tersebut bukan semata-mata karena fasilitas fisik atau kemewahan gedung, melainkan karena nilai jangka panjang yang ditawarkan kepada para siswanya.

Ferry, yang juga menjabat sebagai Managing Director di GRATYO Practical Business Coaching sekaligus pemilik Batavia Market di Kota Tua, menilai, sekolah-sekolah elite memiliki pendekatan pendidikan yang berbeda.

Dikatakan Ferry, fokus mereka bukan sekadar mencetak lulusan yang siap bekerja, tetapi membentuk individu yang mampu memimpin, mengambil keputusan, dan membangun organisasi.

"Kenapa sekolah anak orang terkaya di dunia harganya bisa miliaran per tahun? Padahal bukunya mungkin sama-sama kita. Bukan soal gedungnya yang mewah. Tapi karena di sana, mereka nggak diajarin buat cari kerja. Mereka diajarin buat ngatur orang yang cari kerja," ungkap Ferry, dikutip dari laman Instagram pribadinya @ferrydafira.official, Kamis (30/7/2026).

Menurut Ferry, kurikulum di sekolah-sekolah tersebut lebih menekankan pengembangan kemampuan strategis, seperti kepemimpinan, negosiasi, hingga cara berpikir jangka panjang.

Kompetensi semacam itu dinilai menjadi bekal penting untuk menghadapi dunia bisnis maupun memimpin organisasi di masa depan.

Baca Juga: Orang Terkaya di Dunia pun Bisa Stres, Ini Pelajaran dari Elon Musk

"Fokusnya bukan hapalan rumus, tapi strategi negosiasi dan kepemimpinan," katanya.

Selain materi pembelajaran, Ferry juga menyoroti pentingnya lingkungan sosial yang terbentuk di sekolah-sekolah tersebut.

Ia pun meyakini bahwa salah satu aset terbesar yang diperoleh para siswa adalah jaringan pertemanan yang dapat membuka peluang besar di masa depan.

"Di sekolah biasa, kalian cari teman main. Di sana, mereka bangun global network. Teman sebangku mereka adalah calon partner bisnis atau penguasa masa depan. Ini namanya membeli masa depan lewat koneksi," jelas Ferry.

Kemudian, Ferry menambahkan bahwa bagi keluarga-keluarga dengan sumber daya finansial besar, biaya pendidikan yang mencapai miliaran rupiah dipandang sebagai investasi, bukan sekadar pengeluaran.

Nilai utama yang dicari bukan hanya ijazah, melainkan akses, relasi, dan efisiensi waktu yang dapat memberikan manfaat jauh lebih besar dalam jangka panjang.

"Bagi mereka, uang miliar itu investasi kecil dibanding value waktu dan akses yang didapat. Karena ingat, time is more valuable than money. Sekolah itu investasi aset, bukan cuma cari gelar," tutup Ferry.

Baca Juga: Mengapa Orang Terkaya di Dunia Punya Yayasan? Pakar Ungkap Strategi di Baliknya