Kehadiran Glengoyne dan Tamdhu di Indonesia bukan sekadar peluncuran dua merek single malt Scotch whisky baru.

Di balik langkah tersebut terdapat keyakinan bahwa pasar Indonesia telah berkembang menjadi salah satu pasar whisky paling menarik di Asia Tenggara, dengan konsumen yang semakin memahami kualitas, karakter, dan cerita di balik sebuah whisky.

Gordon Dundas, selaku Brand Development and Advocacy Director Ian Macleod Distillers sekaligus salah satu brand ambassador global terkemuka di industri Scotch whisky, menjelaskan bahwa keputusan membawa Glengoyne dan Tamdhu ke Indonesia didorong oleh beberapa faktor penting, termasuk kemitraan yang kuat dengan distributor lokal serta keinginan untuk memperkenalkan dua whisky yang memiliki karakter unik kepada pasar yang semakin matang.

"Bekerja dengan mitra yang hebat merupakan bagian besar dari keputusan ini. Kami adalah perusahaan whisky keluarga dan kami ingin semakin banyak orang menemukan whisky- whisky luar biasa ini. Glengoyne mungkin sudah pernah didengar oleh banyak orang, tetapi belum banyak yang benar-benar mengenalnya lebih dalam,” kata Gordon, saat acara ‘Unveiling the Cask bersama Glengoyne dan Tamdhu’, di Cohiba Atmosphere, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

“Sementara, Tamdhu mungkin lebih baru, tetapi telah menjadi favorit para pecinta sherry cask di berbagai negara," sambung Gordon.

Pandangan serupa disampaikan Edhi Sumadi, selaku Brand Development and Advocacy Director untuk Tamdhu dan Glengoyne Indonesia. Menurutnya, perkembangan pasar whisky nasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan yang sangat signifikan.

Konsumen Indonesia kini tidak lagi hanya terdiri dari peminum pemula, melainkan semakin banyak whisky enthusiast dan bahkan whisky connoisseur yang aktif mengeksplorasi berbagai gaya single malt dari seluruh dunia.

"Sekarang peminum whisky di Indonesia jauh lebih berpengalaman dan semakin sophisticated. Mereka semakin mengenal kualitas produk whisky, proses pembuatannya, serta karakter yang berbeda dari setiap brand. Karena itu saya melihat ada peluang besar untuk memperkenalkan Glengoyne dan Tamdhu yang memiliki karakter dan personality yang unik," kata Edhi.

Edhi pun menilai meningkatnya minat terhadap kategori single malt menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan kedua brand tersebut.

"Permintaan terhadap single malt terus bertumbuh, begitu juga popularitasnya di Indonesia. Banyak konsumen yang mencari pengalaman baru, kualitas yang berbeda, serta cerita di balik sebuah whisky. Saya melihat Glengoyne dan Tamdhu memiliki peluang besar untuk menjawab kebutuhan tersebut," ujarnya.

Fenomena tersebut, menurut Gordon, tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terlihat di berbagai pasar whisky dunia. Konsumen kini semakin terbuka untuk mencoba merek-merek baru dan mencari pengalaman yang berbeda dibandingkan sebelumnya.

Selain perubahan perilaku konsumen, Gordon melihat semakin banyak orang yang tertarik pada merek-merek yang lahir dari bisnis keluarga dibandingkan perusahaan besar yang berorientasi pada target jangka pendek.

"Kami juga melihat konsumen mulai menghargai bisnis yang dijalankan oleh keluarga dibandingkan perusahaan korporasi besar. Dalam bisnis keluarga, kami tidak berfokus pada hasil jangka pendek. Kami berpikir untuk jangka panjang dan berusaha menghasilkan whisky terbaik yang bisa kami masukkan ke dalam botol untuk konsumen, bukan untuk menyenangkan para pemegang saham," tegasnya.

Edhi pun menambahkan bahwa filosofi bisnis keluarga memberikan sentuhan yang lebih personal dalam setiap keputusan yang diambil perusahaan.

"Karena ini bisnis keluarga, semuanya benar-benar diperhatikan secara personal. Ini bukan hanya soal bisnis, tetapi juga soal warisan dan heritage yang ingin terus dijaga," ujarnya.

Baca Juga: Filosofi di Balik Glengoyne dan Tamdhu, Dua Single Malt Scotch Whisky dengan Karakter Berbeda