Paparan hasil riset dilanjutkan oleh Vice President ESQ Group, Dwitya Agustina, yang mengungkapkan bahwa dari 870 siswa yang dipetakan, potensi seni tersebar relatif merata di berbagai bidang, dengan pola keunggulan yang berbeda di setiap sekolah.

“Setiap sekolah menunjukkan keunggulan yang berbeda, sehingga pembinaan tidak bisa diseragamkan dan harus berbasis data,” jelas Dwitya.

Ia menambahkan bahwa mayoritas siswa memiliki gaya belajar kinestetik dan auditori. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan seni perlu lebih banyak berbasis praktik dan simulasi, serta menuntut peran guru yang memahami potensi individual muridnya melalui pendekatan Talent DNA.

“Guru seni harus mengenal potensi muridnya. Guru juga perlu memahami Talent DNA murid-muridnya,” ujarnya.

Menbud Fadli juga menyoroti pentingnya pengakuan terhadap kompetensi non-akademik dalam ekosistem kebudayaan. Menurutnya, banyak maestro dan pelaku budaya yang keahliannya terbentuk melalui pengalaman panjang, bukan semata pendidikan formal.

“Ada orang yang sekolahnya tidak tinggi, tapi sudah sangat mahir di bidangnya. Itu juga bentuk kompetensi yang harus kita hargai,” katanya.

Kementerian Kebudayaan terus berupaya membangun sistem manajemen talenta kebudayaan berbasis data yang berorientasi pada potensi, serta mendukung pembinaan seni yang berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan zaman. Ke depan, hasil pemetaan Talent DNA ini diharapkan menjadi dasar perumusan kebijakan dan program pembinaan kebudayaan yang lebih tepat sasaran, baik di tingkat pusat maupun daerah.