Vidjongtius lantas memaparkan, keputusan yang dipaksakan hanya karena keterbatasan waktu justru berpotensi meningkatkan risiko kesalahan.

Karena itu, kata dia, waktu tambahan dapat digunakan untuk melakukan review terhadap berbagai aspek sebelum keputusan final diambil.

“Karena menurut saya, kalau keputusan yang karena hanya masalah waktu, risiko untuk salah itu tinggi. Jadi kalau saya akan melihat ruangannya itu untuk berpikir, ruangan untuk mereview kembali, nanti baru kita ketemu sekali lagi, baru kita diskusikan. Nggak ada yang bilang tidak boleh delay,” jelasnya.

Meski demikian, Vidjongtius memahami bahwa ada kondisi tertentu yang memang menuntut pemimpin untuk bergerak cepat.

Dalam menghadapi persoalan atau situasi yang bersifat mendesak, keputusan taktis memang diperlukan agar perusahaan dapat segera merespons keadaan.

“Kita menghadapi banyak masalah. Frog misalnya. Ya memang harus cepat. Dalam cepat itu kan memang ada sifatnya memang taktis gitu ya. Cepat gitu. Tapi kan harus dibarengin juga dengan persiapan tadi,” ujarnya.

Kecepatan, menurut Vidjongtius, tetap perlu berjalan beriringan dengan kesiapan. Sebelum keputusan yang bersifat mutlak diambil, pemimpin perlu memastikan berbagai aspek pendukung, mulai dari dokumentasi hingga administrasi, telah diperiksa dengan baik.

“Mungkin dokumentasi, administrasi, pack-nya dan segala macam harus dilihat sebelum ambil keputusan yang mutlak. Ruang untuk berpikir kembali sebelum itu diketok palu selalu ada,” pungkas Vidjongtius.

Baca Juga: Cara Menghadapi Krisis Bisnis ala Vidjongtius