Wacana menyatukan Anies Baswedan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai pasangan calon presiden dan calon wakil presiden untuk Pilpres 2029 mengemuka dalam satu dua hari belakangan, banyak pihak antusias dengan pasangan calon yang masih imajiner itu, namun tak sedikit yang justru pesimis, pasangan ini dinilai mustahil terwujud lantaran rivalitas politik masa lalu. 

Perlu diketahui, Anies Baswedan dan  Ahok pernah membuat tensi politik nasional mendidih, pada Pilkada DKI Jakarta 2017 keduanya bersaing sengit merebut kursi Gubernur DKI.

Ini menjadi salah satu hajatan Pilkada terburuk sepanjang sejarah sebab isu rasial dan politisasi agama digoreng habis-habisan, hasilnya Anies terpilih menjadi Gubernur dan Ahok masuk penjara lantaran kasus penistaan agama yang menjadi amunisi utama Anies Baswedan ketika itu. 

Berangkat dari rivalitas politik masa lalu itu, Akademisi sekaligus Guru Besar Bidang Ilmu Pemikiran Islam Hasyim Muhammad mengatakan pasangan jelas sangat sukar disatukan dalam satu paket untuk Pilpres 2029 mendatang, masing-masing pendukung kedua sosok ini jelas tidak bakal terima dengan ide ini.

Baca Juga: Menhut Raja Juli Bilang 'Asap Tak Punya KTP', Anies Langsung Nyambar: Harusnya Dulu Saya Daftarkan Hak Cipta Ya...

“Persatuan Anies-Ahok. Kalau dari sisi pendukung, keduanya sama saja. Pendukung Anies dan Ahok bencinya sundul langit ke lawannya. Tapi Anies lebih bisa menerima Ahok daripada Ahok menerima Anies,” ungkap Hasyim Muhammad dilansir Olenka.id Jumat (4/9/2026).

Hasyim mengatakan, Anies merupakan politisi dengan pribadi yang lebih fleksibel, kemungkinan besar ia bisa menerima tawaran berduet dengan rivalnya tersebut, namun pada sisi lain Ahok disebut sulit menerima itu, rentetan peristiwa pada Pilkada DKI 2017 yang menggiringnya ke penjara ditambah pidato Anies Baswedan ketika dilantik yang tetap membawa isu rasial bikin Ahok pikir-pikir lagi berduet dengan Anies Baswedan. Ahok kemungkinan besar masih sakit hati.

“Anies mungkin mau saja dibuatin channel youtube bareng Ahok. Anies orangnya cenderung santai dan lebih bisa kompromi,” paparnya. Sedangkan Ahok, mungkin akan menolak karena masih marah sama Anies. Hal itu terutama terkait pidato Anies saat pelantikan Gubernur DKI,” ungkapnya.

Meski demikian, ia justru melihat pertemuan kedua tokoh tersebut sebagai sesuatu yang berpotensi memberikan dampak besar apabila benar-benar terwujud. Ia bahkan berharap  keduanya dapat mengesampingkan perbedaan masa lalu demi kepentingan yang lebih luas.

“Tapi andai saya bisa bertemu langsung Pak Ahok. Saya akan sampaikan bahwa persatuan keduanya adalah sebuah kekuatan besar untuk persatuan bangsa ini,” jelasnya.

Menurut Hasyim, rekonsiliasi tidak harus berarti kedua tokoh tersebut menghapus seluruh perbedaan. Baginya, hal yang lebih penting adalah kesediaan untuk mengakui kekurangan masing-masing dan membuka ruang untuk saling memaafkan.

“Jika mereka berdua bisa bersatu dan mau mengakui apa yang salah dari diri mereka, maka itu akan sangat indah,” ungkapnya.

Hasyim kemudian mengaitkan wacana tersebut dengan dinamika politik nasional menuju Pemilu 2029. Ia mempertanyakan apakah keduanya akan memilih menghadapi pemerintahan saat ini sebagai kekuatan politik alternatif atau justru berjalan sendiri-sendiri.

“Sekarang kembali ke mereka berdua, apakah pemerintah sekarang perlu ‘dikalahkan’ atau dibiarkan? Kalau mereka merasa pemerintah sekarang perlu dikalahkan, tapi mereka berdua berjuang sendiri-sendiri, alias tak mau bersatu, ya sudah perjuangan mereka nggak akan berhasil,” paparnya.

Baca Juga: Takziah ke Korban Kerusuhan Demo Terus Minta Negara Jangan Kalah, Anies Baswedan Malah Kena Semprot: Kebiasaan Nih, Datang, Rekam, Pamer

Bagi Hasyim, perbedaan pendekatan politik antara keduanya tidak serta-merta berarti keduanya memiliki tujuan yang bertolak belakang. Ia menilai kedua tokoh tersebut sama-sama memiliki keinginan untuk memberikan kontribusi bagi Indonesia, meski cara yang ditempuh berbeda.

“Ahok dan Anies itu sama-sama punya niat baik kepada bangsa ini. Hanya cara mereka berbeda. Keduanya sama-sama orang baik,” terangnya.