Sesi latihan selama 70 menit dirancang langsung oleh Indra Sjafri dengan pendekatan yang disesuaikan untuk anak-anak.
Para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok yang bergantian mengikuti tiga materi utama, yakni passing, small-sided games (SSG) shooting, dan shielding. Pendekatan ini bertujuan agar setiap anak memperoleh pengalaman belajar yang menyeluruh, baik dari sisi teknik maupun kerja sama tim.
Menurut Indra Sjafri, pembinaan pemain muda harus memperhatikan tahapan perkembangan setiap anak.
"Dalam pembinaan usia dini, setiap anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda sehingga metode latihan juga perlu disesuaikan. Melalui rotasi di setiap zona latihan, anak-anak dapat mengembangkan kemampuan teknis secara bertahap sekaligus belajar berkoordinasi dan mengambil keputusan di lapangan," jelas Indra.
Bagi pelatih yang dikenal sukses mengembangkan banyak pemain muda nasional itu, pembinaan sepak bola tidak hanya berbicara soal kemampuan teknis, tetapi juga pembentukan karakter.
"Dalam olahraga memang harus ada jiwa kompetitif, tetapi menang bukanlah tujuan akhir. Setiap kemenangan harus diraih dengan cara-cara yang baik," tegasnya.

Pesan tersebut juga disampaikan kepada para orang tua peserta. Di sela-sela kegiatan, Indra berdialog langsung dengan mereka mengenai pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter anak.
Ia menekankan bahwa nilai sportivitas, disiplin, rasa hormat kepada orang lain, kepercayaan diri, serta kemampuan bekerja sama merupakan bekal yang sama pentingnya dengan keterampilan bermain sepak bola.
Selain menjalani latihan, peserta juga mendapat kesempatan berdialog langsung dengan Rio Fahmi di Jakarta dan Atep di Bandung.
Keduanya berbagi pengalaman tentang perjalanan panjang menuju level profesional, sekaligus memotivasi anak-anak agar tidak mudah menyerah dalam mengejar impian.
Atep mengaku dirinya berasal dari lingkungan dengan fasilitas yang sangat terbatas. Namun, keterbatasan tersebut tidak menghalangi tekadnya untuk menjadi pemain profesional.
"Perjalanan saya dimulai dari seorang anak kampung di sebuah kota kecil dengan akses dan fasilitas yang serba terbatas. Namun, hal itu tidak menyurutkan tekad saya untuk menjadi pemain profesional. Bahkan setelah menjadi pemain nasional pun, tantangan selalu ada. Tidak ada proses yang instan, setiap kesuksesan dibangun dari disiplin berlatih, kemauan untuk terus belajar, dan tidak lupa beribadah. Saya sangat senang melihat semangat adik-adik yang hadir. Bukan tidak mungkin dari McDonald’s Football Clinic hari ini, ada dari mereka yang menjadi bintang lapangan hijau di masa depan," tutur Atep.
Baca Juga: Kisah Made Gunada, Petani Lokal yang Menjadi Bagian Rantai Pasok McDonald’s Indonesia