Growthmates, menjadi pengusaha kerap dianggap sebagai salah satu jalan utama untuk mencapai kekayaan. Tak sedikit yang beranggapan bahwa seseorang harus memiliki bisnis sendiri agar bisa memiliki penghasilan besar dan membangun kekayaan.

Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Menurut Perencana Keuangan sekaligus Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, ST., MBA., CFP®, QWP®, seseorang tetap bisa mencapai kondisi finansial yang kuat meski memilih jalur karier sebagai profesional.

Melvin mengatakan, selama mendampingi klien, ia justru banyak menemukan profesional dengan posisi tinggi yang memiliki penghasilan sangat besar. Mereka berasal dari berbagai jenjang karier, mulai dari senior manager hingga vice president dan director.

“Banyak yang bilang kalau mau kaya harus jadi pebisnis, tapi kalau menurutku, itu tidak selalu benar. Buktinya ya, klien-klien kita itu banyak lho profesional di level tinggi. Ada senior manager, ada yang vice president, ada director yang penghasilannya sudah sangat besar, hingga miliaran rupiah per tahun,” papar Melvin, dikutip dari laman Instagram pribadinya @melvin_mumpuni, Selasa (8/9/2026).

Menurutnya, faktor utama yang menentukan seseorang bisa membangun kekayaan bukan semata-mata profesi yang dijalani.

Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana seseorang menyusun strategi keuangan sejak memperoleh penghasilan hingga mengelola kekayaan yang telah terkumpul.

“Jadi masalahnya bukan di profesi sih menurutku, tapi di strategi menuju kayanya, dan setelah itunya gimana,” jelasnya.

Baca Juga: Cara Mengatur Keuangan Freelancer agar Tetap Aman Meski Penghasilan Tak Menentu

Melvin menilai, memiliki penghasilan tinggi merupakan modal penting untuk membangun kekayaan, tetapi bukan satu-satunya faktor.

Seseorang yang memiliki pemasukan besar tetap perlu memiliki strategi untuk mengelola uang, melindungi aset, mengembangkan kekayaan, hingga mempersiapkan keberlanjutan finansial untuk keluarga.

Pasalnya, kemampuan menghasilkan uang dan kemampuan mengelola kekayaan merupakan dua hal yang berbeda.

“Karena bisa jadi, hari ini kamu sudah sangat baik dalam menghasilkan pemasukan, tapi belum tentu kamu sudah siap untuk melindungi kekayaan kamu,” kata Melvin.

Ia menambahkan, tantangan finansial justru dapat berubah ketika seseorang sudah berada pada tahap memiliki penghasilan dan aset yang besar.

Fokusnya tidak lagi hanya bagaimana meningkatkan pemasukan, tetapi juga bagaimana memastikan kekayaan tersebut tetap terjaga dan dapat berkembang.

“Belum tentu kamu sudah siap untuk mengembangkan kekayaan kamu, atau juga mungkin meneruskan kekayaan itu ke generasi berikutnya,” lanjutnya.

Karena itu, menurut Melvin, perjalanan menuju kondisi finansial yang mapan tidak seharusnya hanya berorientasi pada upaya meningkatkan pendapatan. Perencanaan juga perlu mencakup bagaimana seseorang mengelola hasil yang sudah diperoleh.

Dengan kata lain, menjadi kaya bukan sekadar persoalan berapa besar penghasilan yang diterima, tetapi juga bagaimana uang tersebut dikelola untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang.

Baca Juga: 4 Prinsip Keuangan Warren Buffett yang Bisa Bantu Anda Jadi Lebih Kaya