Paparan tersebut dapat membuat anak muda terus-menerus melihat pencapaian orang lain, mulai dari karier, kekayaan, gaya hidup, hingga pengalaman yang terlihat menyenangkan. Tanpa kemampuan menyikapinya secara bijak, kondisi ini berpotensi menimbulkan tekanan untuk selalu terlihat berhasil atau mengikuti standar kehidupan orang lain.
Prita mengaku prihatin melihat situasi yang dihadapi anak muda saat ini. Menurutnya, derasnya paparan media sosial membuat tantangan dalam menjalani usia 20-an terasa semakin berat.
“Nah itu yang paling bahaya orang yang punya privilege. Nah orang yang enggak punya privilege, ya bahayanya dia adalah kemungkinan besar kalau mindset-nya dia itu tidak ekstra luar biasa, jadi akan di situ-situ aja,” tuturnya.
Bagi mereka yang tidak memiliki privilege, Prita menyoroti risiko terjebak dalam pola pikir yang membatasi diri. Ketakutan untuk mencoba sesuatu yang baru karena khawatir gagal dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Begitu pula dengan kebiasaan memandang keberhasilan orang lain secara negatif, yang dapat menghambat kemajuan diri sendiri.
Karena itu, menurut Prita, anak muda perlu membangun pola pikir yang mendorong keberanian untuk mencoba, menerima kemungkinan gagal, dan terus memperbaiki diri.
Dikatakannya, latar belakang keluarga memang dapat memengaruhi titik awal seseorang, tetapi cara menghadapi tantangan juga menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup.
Ia menilai, kemampuan melewati berbagai tantangan tersebut sejak usia 20-an dapat membantu seseorang memasuki usia 30-an dengan lebih baik.
“Menurut aku tuh tantangan besar di umur 20-an itu pada saat kamu bisa melewati itu semua, menurut aku kamu akan bisa masuk ke 30 dengan lebih baik,” tandasnya.
Baca Juga: Emas untuk Investasi atau Lindungi Kekayaan? Ini Penjelasan Financial Planner