Growthmates, kemerahan atau bentol-bentol pada kulit kerap membuat seseorang bertanya-tanya apakah kondisi tersebut sekadar alergi atau justru menjadi tanda penyakit lupus. Meski sama-sama dapat menimbulkan kelainan pada kulit, alergi dan lupus merupakan dua kondisi yang berbeda.
Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, FINASIM, memaparkan, lupus yang dimaksud dalam konteks ini adalah Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus eritematosus sistemik.
Berbeda dengan lupus yang hanya menyerang kulit, SLE merupakan penyakit autoimun sistemik yang dapat mengenai berbagai organ tubuh.
“Jadi kalau lupus atau yang sekarang orang sebut sebagai SLE, Systemic Lupus Erythematosus, jadi lupus yang kita bahas sekarang bukan lupus yang diskoid, tapi lupus yang sistemik. Jadi pada benarnya lupus mengenai banyak organ,” jelas Prof. Zubairi, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, kulit memang menjadi salah satu bagian tubuh yang dapat mengalami gangguan pada penderita lupus. Kelainan tersebut dapat berupa kemerahan, termasuk akibat vaskulitis, maupun berbagai bentuk kelainan kulit lainnya. Namun, adanya gangguan pada kulit saja tidak serta-merta berarti seseorang mengalami lupus.
“Jadi alergi di kulit bisa karena alergi biasa, bisa juga bagian dari penyakit lupus sistemik,” jelasnya.
Perbedaan penting antara keduanya terletak pada perjalanan penyakit dan keterlibatan organ tubuh lainnya. Pada alergi kulit, keluhan umumnya terbatas pada reaksi alergi.
Sementara itu, pada SLE, kelainan kulit dapat muncul bersamaan dengan gejala lain karena penyakit tersebut berpotensi menyerang berbagai organ.
Prof. Zubairi mengatakan, lupus dapat ditandai dengan beragam gejala, mulai dari rambut rontok, nyeri sendi, sariawan, hingga kulit yang sensitif terhadap sinar matahari. Kelainan pada kulit juga menjadi salah satu kelompok gejala yang perlu diperhatikan.
“Intinya adalah untuk bisa bilang lupus selain gejala, tadi rambut rontok, kelainan di kulit, kemudian sariawan, kemudian enggak tahan matahari, dan yang lain kelompok gejala,” tuturnya.
Baca Juga: Dokter Tegaskan Lupus Bukan Penyakit Menular, Masyarakat Tak Perlu Takut
Namun, lanjut Prof. Zubairi, gejala saja belum cukup untuk memastikan seseorang menderita lupus. Diagnosis juga perlu mempertimbangkan pemeriksaan yang berkaitan dengan sistem autoimun. Salah satu pemeriksaan yang dikenal adalah antinuclear antibody (ANA).
“Ada lagi kelompok harus kombinasi gejala dan kelompok autoimun. Jadi tes autoimunnya harus positif, ANA antinuklir antibodinya positif,” kata Prof. Zubairi.
Selain ANA, terdapat sejumlah pemeriksaan antibodi lain yang dapat digunakan untuk membantu mengevaluasi penyakit autoimun, antara lain antibodi terhadap double-stranded DNA atau anti-dsDNA serta anticardiolipin antibody (ACA).
Pemeriksaan lain juga dapat dilakukan untuk melihat apakah sistem kekebalan tubuh menyerang sel tubuh sendiri.
Prof. Zubairi mencontohkan pemeriksaan Coombs atau Kombs, yang digunakan untuk melihat adanya antibodi yang berkaitan dengan penghancuran sel darah merah oleh sistem imun tubuh.
Keterlibatan organ juga menjadi salah satu faktor yang membuat lupus sistemik memiliki tingkat keparahan yang berbeda-beda. Misalnya, ketika lupus tidak hanya menyebabkan kelainan kulit, tetapi juga menyerang ginjal, kondisi penyakit dapat menjadi jauh lebih serius.
“Jadi misalnya kena juga ginjal, tentu penyakitnya menjadi jauh lebih berat daripada lupus yang tadi awalnya yang menonjolnya kulit saja,” ungkapnya.
Karena itu, kata dia, bentol atau kemerahan pada kulit sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda lupus. Keluhan kulit dapat memiliki banyak penyebab, termasuk alergi biasa.
Sebaliknya, apabila kelainan kulit disertai gejala lain seperti rambut rontok, nyeri sendi, sariawan berulang, sensitif terhadap sinar matahari, atau keluhan pada organ lain, diperlukan evaluasi lebih lanjut.
“Jadi sekali lagi, lupus adalah penyakit sistemik, kelainannya bisa dengan gejala macam-macam, kemudian tes autoimunnya positif. Sedangkan kalau hanya alergi saja, katel-katel, itu ya sudah katel-katel saja, tes autoimunnya negatif,” pungkas Prof. Zubairi.
Baca Juga: Mengapa Penderita Lupus Mudah Lelah? Ini Penjelasan Dokter Spesialis