Namun, lanjut Prof. Zubairi, gejala saja belum cukup untuk memastikan seseorang menderita lupus. Diagnosis juga perlu mempertimbangkan pemeriksaan yang berkaitan dengan sistem autoimun. Salah satu pemeriksaan yang dikenal adalah antinuclear antibody (ANA).

“Ada lagi kelompok harus kombinasi gejala dan kelompok autoimun. Jadi tes autoimunnya harus positif, ANA antinuklir antibodinya positif,” kata Prof. Zubairi.

Selain ANA, terdapat sejumlah pemeriksaan antibodi lain yang dapat digunakan untuk membantu mengevaluasi penyakit autoimun, antara lain antibodi terhadap double-stranded DNA atau anti-dsDNA serta anticardiolipin antibody (ACA).

Pemeriksaan lain juga dapat dilakukan untuk melihat apakah sistem kekebalan tubuh menyerang sel tubuh sendiri.

Prof. Zubairi mencontohkan pemeriksaan Coombs atau Kombs, yang digunakan untuk melihat adanya antibodi yang berkaitan dengan penghancuran sel darah merah oleh sistem imun tubuh.

Keterlibatan organ juga menjadi salah satu faktor yang membuat lupus sistemik memiliki tingkat keparahan yang berbeda-beda. Misalnya, ketika lupus tidak hanya menyebabkan kelainan kulit, tetapi juga menyerang ginjal, kondisi penyakit dapat menjadi jauh lebih serius.

“Jadi misalnya kena juga ginjal, tentu penyakitnya menjadi jauh lebih berat daripada lupus yang tadi awalnya yang menonjolnya kulit saja,” ungkapnya.

Karena itu, kata dia, bentol atau kemerahan pada kulit sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda lupus. Keluhan kulit dapat memiliki banyak penyebab, termasuk alergi biasa.

Sebaliknya, apabila kelainan kulit disertai gejala lain seperti rambut rontok, nyeri sendi, sariawan berulang, sensitif terhadap sinar matahari, atau keluhan pada organ lain, diperlukan evaluasi lebih lanjut.

“Jadi sekali lagi, lupus adalah penyakit sistemik, kelainannya bisa dengan gejala macam-macam, kemudian tes autoimunnya positif. Sedangkan kalau hanya alergi saja, katel-katel, itu ya sudah katel-katel saja, tes autoimunnya negatif,” pungkas Prof. Zubairi.

Baca Juga: Mengapa Penderita Lupus Mudah Lelah? Ini Penjelasan Dokter Spesialis