6. The Netanyahus karya Joshua Cohen

Novel ini adalah perpaduan unik antara satir kampus, komedi absurd, dan refleksi sejarah yang tajam.

Joshua Cohen menghadirkan kalimat-kalimat panjang yang penuh observasi budaya, humor, dan ide-ide kompleks.

Membacanya terasa seperti mengikuti percakapan dengan seseorang yang sangat cerdas dan tidak pernah kehabisan topik. Menantang, berantakan, tetapi sangat memuaskan bagi mereka yang ingin kembali mengasah kemampuan berpikir kritis.

7. Small Comfort karya Ia Genberg

Novel yang tenang namun sangat menyentuh ini membangun potret kehidupan seorang perempuan melalui kenangan tentang empat orang yang pernah dicintainya.

Dengan gaya yang intim dan reflektif, Ia Genberg menunjukkan bagaimana hubungan membentuk identitas seseorang dari waktu ke waktu.

Buku ini menghubungkan pembaca kembali dengan nuansa emosional yang sering kali hilang dalam arus informasi digital yang serba cepat.

8. The Nix karya Nathan Hill

Jarang ada novel kontemporer yang mampu menggabungkan humor, kritik sosial, drama keluarga, dan komentar politik sebaik The Nix.

Nathan Hill mengeksplorasi budaya internet, kemarahan publik, kesepian, serta hubungan keluarga yang rumit dengan energi luar biasa.

Plotnya terus berkembang ke arah yang tak terduga, membuat pembaca sulit meletakkannya. Ini adalah bacaan yang sekaligus menghibur dan merangsang pikiran.

9. Empire of Pain karya Patrick Radden Keefe

Buku nonfiksi investigatif ini mengungkap peran keluarga Sackler dalam krisis opioid yang mengguncang Amerika Serikat.

Patrick Radden Keefe menulis dengan gaya yang memadukan ketegangan thriller dan kedalaman riset sejarah.

Kisah tentang kekuasaan, keserakahan, pencitraan publik, dan dampaknya terhadap jutaan kehidupan ini terasa begitu mencekam sehingga sulit untuk berhenti membaca.

Buku ini mengingatkan kembali betapa kuatnya sebuah karya nonfiksi yang ditulis dengan sangat baik.

10. A Bended Circuit karya Robert S. Stickley

Bagi pembaca yang menyukai sesuatu yang benar-benar tidak biasa, A Bended Circuit adalah pilihan yang tepat.

Novel ini mengikuti sebuah keluarga yang terjebak dalam paranoia, obsesi, budaya internet, dan keruntuhan emosional yang semakin surealis.

Robert S. Stickley memadukan humor, filsafat, teknologi, dan psikologi menjadi pengalaman membaca yang sulit diprediksi.

Pergantian perspektif dan nada cerita yang konstan memaksa otak untuk tetap aktif sepanjang perjalanan.

Baca Juga: 5 Buku Pengembangan Diri Paling Mind-Blowing yang Jarang Dibahas