PT Bank Perekonomian Rakyat Tata Asia (Bank Tata Asia) mencatatkan laba bersih sebesar Rp14,51 miliar, meningkat lebih dari 12 kali lipat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp1,19 miliar. Lonjakan laba ini terutama didorong oleh pertumbuhan pendapatan operasional yang signifikan.
Direktur Utama Bank Tata Asia, TB Frandy Priya Purwanto, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari strategi ekspansi kredit yang agresif dan optimalisasi pendapatan non-bunga. "Kami sangat bersyukur atas kinerja tahun 2025 yang melampaui target. Ini membuktikan kepercayaan nasabah dan fundamental bisnis Bank Tata Asia yang terus menguat di tengah dinamika ekonomi nasional."
Baca Juga: Ditopang Kinerja Kredit, Bank Amar Bukukan Laba Bersih Rp71,12 Miliar pada Q1 2026
“Kami optimistis tren pertumbuhan ini dapat berlanjut di tahun 2026. Bank Tata Asia akan terus fokus pada penyaluran kredit produktif dan konsumtif yang berkualitas, didukung dengan penguatan digitalisasi layanan untuk menjangkau lebih banyak segmen pasar, khususnya di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya," tegasnya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Pertumbuhan kinerja Bank Tata Asia didukung oleh peningkatan signifikan pada aset produktif. Nilai aset Bank Tata Asia per 31 Desember 2025 mencapai Rp712,43 miliar, atau tumbuh 89% dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar Rp376,79 miliar. Selain itu, Kredit Tumbuh 97% dengan penyaluran kredit yang diberikan (gross) naik hampir dua kali lipat menjadi Rp449,73 miliar pada tahun 2025, dibandingkan Rp229,09 miliar pada tahun sebelumnya. Kemudian, Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) berhasil dikerek naik 72% secara tahunan, dari Rp324,12 miliar pada 2024 menjadi Rp554,09 miliar pada 2025, dengan komposisi deposito dan tabungan yang seimbang.
Dari sisi efisiensi, Bank Tata Asia menunjukkan perbaikan signifikan dengan rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) yang membaik jadi 83,22% pada 2025 dari 95,15% di 2024. Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL neto tercatat sebesar 1,58% pada tahun 2025, masih dalam batas yang dapat dikelola dengan baik. Hal ini mencerminkan peningkatan produktivitas dan pengendalian biaya yang lebih baik. Sementara itu, Rasio Kecukupan Modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tetap terjaga solid di angka 26,02%, jauh di atas ketentuan minimum regulator, mengindikasikan permodalan yang sangat kuat untuk mendukung pertumbuhan usaha ke depan.