Growthmates, isu penyebaran virus di kapal pesiar kembali menjadi sorotan setelah World Health Organization (WHO) mengumumkan adanya sekelompok penumpang kapal pesiar berbendera Belanda yang terkonfirmasi terjangkit hantavirus.

Perjalanan yang seharusnya menjadi pengalaman tak terlupakan itu perlahan berubah menjadi mimpi buruk, sebuah krisis kesehatan yang berkembang diam-diam di tengah lautan.

Insiden ini terjadi di atas kapal pesiar MV Hondius, ketika wabah hantavirus muncul dan menyebar tanpa terdeteksi selama berminggu-minggu, hingga akhirnya berkembang menjadi situasi darurat yang merenggut nyawa.

Dan, dikutip dari Times of India, Rabu (6/5/2026), berikut Olenka ulas kronologi kejadian tersebut yang bermula dari laporan penyakit pernapasan akut berat yang diterima WHO melalui Koordinator Peraturan Kesehatan Internasional (IHR) dari Inggris.

Awal Pelayaran

Kapal MV Hondius berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April dengan 149 penumpang dan awak. Pelayaran ini membawa mereka jauh dari fasilitas medis memadai, sebuah faktor yang kemudian memperparah situasi.

Beberapa hari pertama berjalan normal. Tidak ada tanda-tanda bahaya, hingga awal April ketika gejala pertama mulai muncul tanpa menimbulkan kecurigaan.

6 April: Gejala Pertama Muncul

Sekitar 6 April, seorang penumpang asal Belanda mulai merasa tidak sehat. Gejalanya ringan: demam, kelelahan, dan rasa tidak nyaman. Tidak ada yang mengarah pada penyakit serius, apalagi virus langka seperti hantavirus.

Karena gejalanya menyerupai flu biasa, kasus ini tidak langsung mendapat perhatian khusus.

11 April: Kematian Pertama Mengguncang

Situasi berubah drastis hanya dalam hitungan hari. Pada 11 April, penumpang tersebut meninggal dunia setelah mengalami gangguan pernapasan akut yang tiba-tiba.

Kematian ini menjadi titik balik. Namun saat itu, penyebabnya masih misterius.

Pertengahan April: Kasus Mulai Bertambah

Setelah kematian pertama, gejala serupa mulai muncul pada penumpang lain, termasuk istri korban. Polanya serupa, seperti gejala ringan di awal, lalu memburuk dengan cepat.

Dalam periode 6 hingga 28 April, jumlah kasus meningkat secara perlahan. Kekhawatiran mulai muncul di antara tim medis kapal, meskipun penyebabnya belum jelas.

Akhir April: Evakuasi Darurat Dimulai

Seiring kondisi pasien memburuk, evakuasi medis mulai dilakukan di wilayah terpencil seperti Saint Helena dan Pulau Ascension.

Beberapa penumpang yang kritis diterbangkan ke fasilitas kesehatan terdekat. Salah satu penumpang asal Inggris bahkan harus dirawat intensif di Afrika Selatan.

Namun, keterpencilan lokasi membuat proses evakuasi menjadi sangat terbatas dan menantang.

2 Mei: Kematian Kedua Picu Kepanikan

Pada 2 Mei, seorang penumpang asal Jerman meninggal dunia di atas kapal. Ini menjadi kematian kedua yang memperjelas bahwa situasi telah berkembang menjadi krisis serius.

Kepanikan mulai menyebar di antara penumpang, terlebih karena semakin banyak orang menunjukkan gejala serupa.

Baca Juga: Memahami Respiratory Syncytial Virus (RSV) dari Perspektif Prof. dr. Cissy Rachiana Sudjana Prawira