Berangkat dari keresahan terhadap persoalan lingkungan, Peneliti Pusat Studi Sawit IPB sekaligus Dosen IPB University, Siti Nikmatin, merintis usaha berbasis limbah kelapa sawit.
Baginya, limbah yang selama ini kerap dipandang sebagai masalah justru menyimpan potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi.
Siti menegaskan bahwa inovasi tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari kemampuan membaca persoalan nyata yang dihadapi masyarakat maupun industri.
Ia memandang, peneliti memiliki peran penting dalam menangkap persoalan tersebut dan menerjemahkannya menjadi solusi konkret melalui riset dan inovasi.
“Pada prinsipnya, cara berpikirnya adalah bagaimana kita punya ide, kita punya inovasi yang tumbuh karena adanya suatu permasalahan. Nah, permasalahan itu kan datangnya bisa dari masyarakat atau dari industri. Nah, permasalahan itulah yang ditangkap oleh peneliti untuk berinovasi,” ungkap Siti Nikmatin saat ditemui Olenka, belum lama ini.
Lebih jauh, Siti menekankan bahwa inovasi tidak boleh berhenti pada tahap penelitian di laboratorium.
Menurutnya, keberhasilan riset diukur dari sejauh mana hasilnya dapat diterapkan di dunia nyata dan memberikan manfaat langsung.
Karena itu, ia selalu mendorong agar setiap inovasi diarahkan hingga ke tahap hilirisasi.
“Nah, cara berpikirnya inovasi ini kan harus sampai ke hilir. Jadi, tidak hanya penelitian pada skala lab saja. Jadi, harus masuk ke industri, harus bisa dikomersialisasikan,” jelasnya.
Baca Juga: Peneliti IPB Ungkap Potensi Limbah Sawit Jadi Material Kelas Dunia Pengganti Impor
Dalam praktiknya, kata Siti, pendekatan tersebut diwujudkan melalui kolaborasi erat dengan sektor industri.
Siti percaya bahwa kemitraan menjadi kunci agar inovasi dapat berkembang, diproduksi dalam skala besar, dan benar-benar digunakan oleh masyarakat.
“Jadi, kalau saya meneliti biasanya inovasinya, ya cara berpikirnya bagaimana bisa sampai ke hilir dan kerjasamanya harus menggandeng industri,” katanya.
Setelah inovasi berbasis riset berhasil dikembangkan menjadi produk, lanjut dia, langkah berikutnya adalah melindunginya melalui hak kekayaan intelektual.
Perlindungan ini dinilai Siti sangat penting untuk menjaga nilai inovasi sekaligus membuka peluang pengembangan lebih lanjut, termasuk proses peningkatan skala produksi.
“Ketika itu sudah menjadi produk yang berbasis riset, maka kita lindungi dengan hak kekayaan intelektual. Setelah terlindungi dengan hak kekayaan intelektual, maka biasanya di-scale up,” tuturnya.
Dan pada akhirnya,strategi utama yang ia pegang adalah memastikan bahwa riset yang dilakukan benar-benar menjawab kebutuhan nyata.
Dengan demikian, kata Siti, inovasi yang dihasilkan tidak hanya relevan, tetapi juga mudah diterima dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
“Strateginya ya itu tadi, risetnya memang dibutuhkan oleh masyarakat. Sehingga mudah terserap,” pungkas Siti.
Baca Juga: Peneliti IPB Soroti Pesatnya Perkembangan Hilirisasi Sawit Nasional