Perubahan pun terjadi secara nyata. Menurut Ciputra, dari kampus dengan fasilitas sederhana dan bangunan seadanya, Universitas Tarumanagara berkembang menjadi institusi modern dengan infrastruktur megah.
“Dari universitas yang selalu divisi, bangunan satu lantai, gubuk, sekarang memiliki bangunan tertinggi, 22 lantai seluruh Indonesia, bangunan universitas tertinggi 22 lantai, baru selesai dengan biaya Rp200 miliar,” tukasnya.
Tak hanya itu, kata Ciputra, pengembangan juga merambah sektor kesehatan dengan pembangunan rumah sakit pendidikan.
“Demikian juga membangun satu rumah sakit Royal Taruma dengan Rp200 miliar. Semua tidak meminta pinjaman dari bank, semua dari hasil universitas itu sendiri,” bebernya.
Ciputra pun mengatakan, hasil dari transformasi tersebut luar biasa. Universitas yang dulu bergantung pada bantuan kini justru mampu berdiri mandiri secara finansial, bahkan memiliki aset bernilai besar.
“Dengan kekayaan, saya taksir paling kurang Rp2 triliun,” tegasnya.
Namun, bagi Ciputra, inti dari semua pencapaian ini bukanlah sekadar angka atau bangunan megah. Kunci utamanya adalah satu hal, yakni jiwa kewirausahaan.
“Jadi, Saudara-saudara, semua itu dengan satu prinsip, ialah jiwa entrepreneurship. Jiwa entrepreneurship yang bisa merubah segala kekurangan, segala kemiskinan menjadi sesuatu yang berlebihan,” pungkas Ciputra.
Baca Juga: Resep Manjur Entrepreneurship Warisan Mendiang Ciputra