Tak hanya dipenuhi deretan artis ternama, industri perfilman Tanah Air juga melahirkan banyak sineas berbakat yang karyanya sukses mencuri perhatian. Salah satu nama yang tak bisa dilewatkan adalah Angga Dwimas Sasongko.

Dikenal sebagai sutradara, produser, sekaligus penulis skenario, Angga telah melahirkan sejumlah film populer yang memberi warna tersendiri bagi perfilman Indonesia. 

Tak berhenti di situ, ia juga dikenal sebagai pendiri rumah produksi Visinema Pictures, yang telah melahirkan banyak karya. Salah satunya adalah film animasi Jumbo (2025) yang sukses mencetak sejarah sebagai film animasi Indonesia terlaris dengan raihan lebih dari 10,2 juta penonton. 

Berikut telah Olenka rangkum dari berbagai sumber, Minggu (22/2/2026), untuk mengenal lebih lanjut sosok dan perjalanan karier Angga Dwimas Sasongko.

Baca Juga: Profil Sartri Dania Sulfiati, Sutradara Perempuan Serba Bisa di Balik Deretan Film Ikonik Indonesia

Profil Angga Dwimas Sasongko

Angga Dwimas Sasongko lahir pada 11 Januari 1985 dari pasangan Sasongko Mulya Soedjono dan Agnes RA Poluan. Sejak kecil, ia sebenarnya bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Ia rajin berlatih dan aktif mengikuti pertandingan, namun mimpi itu harus kandas karena cedera lutut yang dialaminya.

Kegagalan tersebut justru membawanya ke jalan lain. Angga kemudian menempuh pendidikan di Universitas Indonesia, jurusan Jurnalisme Penyiaran. Selama kuliah, ia aktif mengikuti berbagai pelatihan sinematografi.

Perjalanan Karier

Tepat di usia 21 tahun, Angga mengawali kariernya sebagai sutradara melalui film perdananya Foto Kotak Jendela yang tayang pada 2006. Satu tahun kemudian, ia kembali menjadi sutradara untuk film horor populer, Jelangkung 3.

Sebelumnya, Angga sempat terlibat di balik layar sebagai asisten sutradara dalam Catatan Akhir Sekolah (2005) dan kru produksi di Jomblo (2006). Pengalaman itu menjadi bekal awal sebelum ia benar-benar berdiri di kursi sutradara.

Kariernya kemudian melesat lewat sejumlah film penting seperti Hari untuk Amanda (2010), Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (2014), hingga Filosofi Kopi (2015) yang semakin mengukuhkan namanya sebagai seorang sutradara. 

Angga  juga dikenal lewat karya-karya seperti Surat dari Praha, Bukaan 8, Wiro Sableng, sampai Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini yang sukses besar di pasaran.

Dalam beberapa tahun terakhir, Angga terus produktif lewat film seperti Mencuri Raden Saleh (2022), Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang (2023), 13 Bom di Jakarta (2023), hingga Heartbreak Motel (2024). Ia juga terlibat sebagai produser eksekutif di banyak proyek, termasuk film animasi Jumbo (2025).

Tak hanya fokus menggarap film layar lebar, Angga juga pernah menyutradarai puluhan video klip musik dan iklan komersial untuk berbagai merek. Ia bahkan berkeliling Indonesia untuk mengerjakan sejumlah film dokumenter. 

Di balik layar, ia dikenal sebagai pendiri sekaligus CEO Visinema Pictures, rumah produksi yang melahirkan banyak film sukses. Salah satunya adalah  film animasi Jumbo (2025) yang sukses mencetak sejarah sebagai film animasi Indonesia terlaris dengan raihan lebih dari 10,2 juta penonton. 

Baca Juga: Salman Aristo dan Perjalanan Kariernya dari Penulis hingga Sutradara Film

Di luar dunia film, Angga juga aktif sebagai pebisnis kreatif. Ia merupakan co-founder label furniture dan interior Trystliving serta CEO Woodchef Indonesia, di mana ia turut terlibat sebagai desainer produk. Ia juga bergabung dengan firma konsultan strategis Archiss sebagai mitra komunikasi kreatif.

Tak berhenti di sana, Angga dikenal sebagai sosok yang peduli pada isu kemanusiaan. Bersama mendiang Glenn Fredly melalui Green Music Foundation, ia menginisiasi gerakan Save Mentawai untuk membantu korban tsunami Mentawai pada 2010. 

Angga juga menggagas Pondok Cerdas Indonesia (PONDASI), komunitas belajar berbasis perpustakaan yang dibangun untuk masyarakat kepulauan, pertama kali didirikan di wilayah Mentawai.

Nominasi dan Penghargaan

Sepanjang kariernya, Angga juga mengantongi berbagai nominasi dan penghargaan bergengsi. Pada 2010, ia masuk nominasi Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia lewat Hari untuk Amanda, lalu memenangkan Sutradara Terbaik di ajang KuFI 2011.

Tahun 2014 menjadi salah satu momen penting ketika Cahaya dari Timur: Beta Maluku meraih Film Terbaik di FFI, sekaligus membawa pulang sejumlah penghargaan di Piala Maya, termasuk Film Bioskop Terpilih dan Sutradara Terpilih.

Baca Juga: Sutradara Joko Anwar Terima Gelar Chevalier, Pengakuan Seni Bergengsi dari Pemerintahan Prancis

Lewat Filosofi Kopi (2015) dan Surat dari Praha (2016), namanya kembali menghiasi berbagai nominasi di FFI dan Piala Maya. Bahkan, di Usmar Ismail Awards 2016, Surat dari Praha berhasil memenangkan Film Terbaik dan Sutradara Terbaik.

Dalam beberapa tahun terakhir, ia juga mendapat banyak apresiasi lewat film seperti Love for Sale, Keluarga Cemara, hingga Mencuri Raden Saleh (2022), yang membawanya meraih penghargaan di Indonesian Movie Actors Awards dan Jakarta Film Week, serta kembali masuk nominasi di Festival Film Indonesia.