Kesehatan saluran pencernaan ternyata memiliki peran jauh lebih besar dibanding sekadar mencerna makanan. Para ahli menilai usus merupakan pusat perkembangan sistem imun, metabolisme, hingga berpengaruh terhadap fungsi otak. Karena itu, menjaga keseimbangan mikrobiota sejak awal kehidupan menjadi salah satu fondasi penting untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Danone Media Event: Global Advances and Insights on Biotics for Child Health, yang menghadirkan pakar gastroenterologi anak dunia dari Belgia, Professor Yvan Vandenplas, bersama Medical and Scientific Affairs Director Danone Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, di Jakarta.
Professor Yvan menjelaskan bahwa banyak masyarakat masih menyamakan istilah mikrobiota dan mikrobioma, padahal keduanya memiliki makna berbeda.
"Mikrobiota adalah kumpulan organisme hidup seperti bakteri, virus, jamur, dan mikroorganisme lain yang hidup di tubuh kita. Sementara mikrobioma mencakup seluruh aktivitas dan materi genetik dari mikroorganisme tersebut," ujar Prof. Yvan.
Menurutnya, sekitar 95 persen mikroorganisme dalam tubuh manusia berada di saluran pencernaan. Bahkan jumlah mikroorganisme di usus lebih banyak dibandingkan jumlah sel manusia.
Ia menegaskan bahwa mikrobiota berperan penting dalam pembentukan sistem imun, metabolisme, hingga perkembangan hormonal, terutama pada masa awal kehidupan seorang anak.
"Gut is probably the most important immune organ that we have," ujar Prof. Yvan.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar sel imun manusia berada di saluran pencernaan. Karena itu, kualitas mikrobiota pada masa bayi akan memengaruhi risiko berbagai penyakit di kemudian hari, termasuk alergi, diabetes, hingga gangguan peradangan usus.
Prof. Yvan menjelaskan bahwa bayi lahir dengan kondisi saluran pencernaan yang hampir steril. Kolonisasi mikroorganisme pertama yang terjadi setelah lahir akan membentuk keseimbangan mikrobiota yang dibawa hingga dewasa.
Menurutnya, pemberian ASI merupakan cara terbaik untuk membangun komposisi mikrobiota yang sehat karena mampu meningkatkan dominasi Bifidobacteria, yaitu bakteri baik yang berperan penting dalam perkembangan sistem imun.
"Breastfeeding is by far the best way to feed infants and every effort should be made to encourage breastfeeding," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa bayi yang lahir melalui operasi sesar memiliki komposisi mikrobiota berbeda dibanding bayi yang lahir secara normal karena kolonisasi awal berasal dari mikrobiota kulit, bukan mikrobiota vagina ibu.
Akibatnya, bayi yang lahir melalui operasi sesar memiliki risiko lebih tinggi mengalami ketidakseimbangan sistem imun apabila tidak mendapatkan intervensi nutrisi yang tepat.
Dalam paparannya, Prof. Yvan juga menjelaskan bahwa penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan erat antara saluran pencernaan dan otak atau gut-brain axis.
Menurutnya, mikrobiota tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga perkembangan fungsi kognitif serta kesehatan mental anak.
"Bakteri seperti Bifidobacteria berpotensi memengaruhi perkembangan neurobiologis dan kesehatan mental sejak usia dini," ujarnya.
Ia menambahkan, berbagai penelitian di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa penambahan biotik pada nutrisi bayi yang tidak mendapatkan ASI dapat membantu memperbaiki kesehatan saluran pencernaan sehingga lebih mendekati kondisi bayi yang memperoleh ASI.
Dalam kesempatan yang sama, dr. Ray Wagiu Basrowi menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan antara prebiotik, probiotik, dan sinbiotik.
Menurutnya, prebiotik merupakan nutrisi bagi bakteri baik, sedangkan probiotik adalah bakteri baik itu sendiri. Kombinasi keduanya dikenal sebagai sinbiotik, yang bertujuan membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus.
"Saluran pencernaan menjadi pusat metabolisme, sistem imun, sekaligus komunikasi dengan otak. Karena itu, menjaga kesehatannya sejak awal kehidupan sangat penting," ujar dr. Ray.
Ia menambahkan bahwa periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan masa emas pembentukan sistem imun. Meski demikian, menjaga kesehatan usus tetap memberikan manfaat pada usia berikutnya, terutama dalam mendukung daya tahan tubuh dan kesehatan pencernaan sehari-hari.
Menjawab pertanyaan mengenai banyaknya produk yang mengklaim mengandung probiotik maupun sinbiotik, Prof. Yvan mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh strategi pemasaran.
"There is science and there is marketing. Parents should choose products that have clinical evidence," ujarnya.
Ia menilai tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam membantu orang tua memilih produk yang benar-benar memiliki bukti ilmiah.
Senada dengan itu, Dr. Ray mengatakan edukasi berbasis sains menjadi hal yang harus diutamakan agar masyarakat memperoleh informasi yang tepat mengenai manfaat biotik bagi kesehatan anak.
Melalui perkembangan riset mengenai mikrobiota, para ahli berharap pemahaman masyarakat terhadap pentingnya kesehatan saluran pencernaan tidak lagi hanya berfokus pada gangguan pencernaan semata, melainkan sebagai fondasi utama pembentukan sistem imun, metabolisme, dan kualitas kesehatan anak hingga dewasa.