“Proses pemasakan tidak serta-merta menghilangkan sifat alergenik tropomiosin. Artinya, udang yang sudah matang tetap dapat memicu reaksi alergi pada orang yang sensitif,” ungkapnya.
Selain tropomiosin, protein lain seperti arginine kinase, myosin light chain, dan sarcoplasmic calcium-binding protein juga berpotensi menjadi alergen. Pada individu yang memiliki alergi, protein tersebut dapat dikenali oleh sistem kekebalan tubuh dan memicu respons imun melalui antibodi imunoglobulin E (IgE).
Respons tersebut dapat menyebabkan pelepasan histamin dan mediator peradangan lainnya yang kemudian memunculkan gejala alergi. Reaksi yang timbul pun beragam, bergantung pada kondisi masing-masing individu.
Gejala alergi udang dapat berupa gatal, biduran, pembengkakan, hingga gangguan pencernaan. Dalam kondisi yang lebih berat, reaksi dapat berkembang menjadi sesak napas bahkan anafilaksis, yaitu reaksi alergi sistemik serius yang berpotensi mengancam jiwa.
“Reaksi alergi pun tidak sama pada setiap orang. Tingkat keparahannya dipengaruhi oleh sensitivitas individu, jumlah alergen yang masuk, dan kondisi kesehatan masing-masing,” bebernya.
Karena itu, orang yang memiliki riwayat alergi udang perlu menghindari konsumsi udang beserta produk turunannya, termasuk terasi dan kaldu udang yang mengandung bahan tersebut. Risiko kontaminasi silang juga perlu diwaspadai, misalnya melalui peralatan masak, permukaan dapur, atau minyak yang digunakan bersama.
Jika muncul gejala ringan seperti gatal atau biduran, penanganan perlu disesuaikan dengan anjuran tenaga medis. Namun, masyarakat tidak boleh menganggap reaksi alergi selalu ringan, terutama jika muncul gangguan pernapasan atau tanda reaksi sistemik.
“Pada kondisi anafilaksis, epinefrin (adrenalin) merupakan terapi utama yang harus diberikan sesegera mungkin, disertai penanganan medis darurat,” pungkasnya.
Baca Juga: Jangan Asal Makan, Ini Cara Mengonsumsi Ampela Ayam agar Lebih Sehat