Growthmates, pernahkah kalian menelepon teman Gen Z lalu justru mendapat balasan, “Chat aja”? Bagi sebagian generasi muda, komunikasi melalui pesan teks memang terasa lebih nyaman dibandingkan harus berbicara langsung melalui telepon.

Gen Z yang tumbuh di tengah perkembangan internet dan smartphone terbiasa dengan komunikasi digital yang cepat, fleksibel, dan tidak selalu menuntut respons secara langsung. Karena itu, bagi sebagian dari mereka, mengirim pesan teks bukan sekadar pilihan praktis, tetapi juga cara berkomunikasi yang terasa lebih nyaman.

Lantas, apa yang membuat Gen Z cenderung lebih memilih texting dibandingkan telepon?

Bisa Berpikir Sebelum Membalas

Salah satu kelebihan pesan teks adalah memberikan waktu untuk memikirkan respons sebelum dikirim.

Berbeda dengan panggilan telepon yang menuntut seseorang merespons secara spontan, chat memungkinkan pengguna menyusun kalimat, memilih kata yang tepat, hingga mengedit kembali pesan sebelum menekan tombol kirim.

Baca Juga: Tahukah Kamu, dari Mana Asal Kata 'Viral'?

Kendali atas apa yang ingin disampaikan tersebut dapat membuat komunikasi terasa lebih nyaman. Pengguna tidak perlu langsung menjawab ketika sedang membutuhkan waktu untuk berpikir atau belum tahu harus merespons seperti apa.

Lebih Fleksibel

Pesan teks juga menawarkan fleksibilitas yang sulit didapatkan melalui telepon. Pesan dapat dibaca dan dibalas ketika penerima memiliki waktu luang, tanpa harus menghentikan aktivitas yang sedang dilakukan.

Seseorang bisa membalas chat ketika sedang berada di perjalanan, di tengah keramaian, atau setelah menyelesaikan pekerjaan. Bahkan, pesan yang masuk tidak selalu harus langsung dijawab.

Hal ini berbeda dengan telepon yang umumnya membutuhkan perhatian pada saat itu juga. Bagi generasi yang terbiasa dengan komunikasi digital, fleksibilitas tersebut menjadi salah satu alasan chat terasa lebih praktis.

Baca Juga: Tahukah Kamu? Bukan Cuma Buat Ngaca, Ini Alasan Kenapa Ada Cermin Besar di Dalam Lift

Mengurangi Kecemasan Saat Menerima Telepon

Faktor lain yang sering dikaitkan dengan keengganan sebagian Gen Z menerima telepon adalah phone anxiety atau kecemasan saat harus berbicara melalui telepon.

Panggilan yang datang secara tiba-tiba dapat menimbulkan pertanyaan seperti, “Ada apa?” atau “Kenapa harus telepon?” terutama jika nomor yang menghubungi tidak dikenal.

Sebuah riset di Inggris menemukan sekitar 70% Gen Z jarang atau bahkan enggan mengangkat telepon. Banyak di antaranya juga memilih mengabaikan panggilan dari nomor yang tidak dikenal.

Pesan teks memberikan konteks sejak awal. Penerima dapat mengetahui siapa yang menghubungi dan apa yang ingin dibicarakan sebelum memutuskan untuk merespons.

Baca Juga: Tahukah Kamu: Kenapa Tulisan Dokter Sering Susah Dibaca?

Terasa Lebih Nyaman dalam Situasi Sosial

Komunikasi melalui teks juga dapat mengurangi kecanggungan, terutama ketika berbicara dengan seseorang yang belum terlalu akrab.

Dalam percakapan telepon, jeda beberapa detik saja terkadang terasa canggung karena kedua pihak harus terus menjaga alur pembicaraan. Chat tidak memiliki tekanan yang sama.

Pengguna bisa mengambil jeda sebelum membalas, menggunakan emoji untuk menunjukkan ekspresi, atau bahkan menyisipkan GIF dan meme untuk membuat percakapan terasa lebih santai.

Bagi sebagian anak muda, pola komunikasi seperti ini terasa lebih natural dibandingkan harus mempertahankan percakapan secara verbal melalui telepon.

Telepon Sering Dianggap Berarti Ada Urusan Penting

Panggilan telepon juga kerap diasosiasikan dengan sesuatu yang mendesak atau penting. Bahkan, bagi sebagian orang, telepon mendadak dapat memunculkan kekhawatiran bahwa ada kabar buruk yang harus disampaikan.

Persepsi tersebut membuat pesan teks terasa lebih aman karena penerima bisa mengetahui konteks pembicaraan terlebih dahulu. Jika seseorang mengirim pesan, misalnya, “Ada waktu buat ngobrol?” penerima memiliki gambaran mengenai maksud komunikasi sebelum menentukan respons.

Sebaliknya, ketika telepon datang tanpa pemberitahuan, penerima harus langsung mengambil keputusan untuk mengangkat atau mengabaikannya.

Kebiasaan Komunikasi di Dunia Kerja Ikut Berubah

Perubahan pola komunikasi ini ternyata tidak hanya terjadi dalam hubungan pertemanan atau kehidupan sehari-hari. Cara berkomunikasi di lingkungan kerja juga ikut mengalami penyesuaian.

Dilansir dari Kompas.com, sejumlah pihak dari generasi yang lebih tua turut menyesuaikan gaya komunikasi ketika berhadapan dengan pekerja muda. Beberapa pemilik bisnis bahkan mengaku harus mengubah cara berkomunikasi karena karyawan muda cenderung lebih responsif terhadap pesan teks dibandingkan panggilan telepon.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa preferensi terhadap chat tidak selalu berarti Gen Z tidak mau berkomunikasi. Mereka hanya memiliki cara berbeda dalam menentukan media komunikasi yang dianggap paling nyaman dan efektif.

Pada akhirnya, pilihan antara texting dan telepon sangat bergantung pada situasi dan kebutuhan masing-masing orang. Telepon tetap menjadi pilihan yang lebih efektif untuk percakapan yang membutuhkan respons cepat atau pembahasan panjang, sementara pesan teks memberikan fleksibilitas dan kontrol yang lebih besar bagi penerimanya.

Jadi, ketika seorang Gen Z memilih membalas chat daripada mengangkat telepon, belum tentu mereka sedang menghindari komunikasi, ya. Bisa jadi, mereka hanya ingin tahu dulu “Ini telepon soal apa?