Bisnis kedai kopi di Indonesia semakin ramai. Berbagai merek terus bermunculan dan memperluas jaringan, tetapi kondisi tersebut belum tentu menandakan pasar kopi telah jenuh.

CEO Janji Jiwa Billy Kurniawan melihat masih ada ruang pertumbuhan yang cukup besar di industri kopi Indonesia. Salah satunya karena tingkat konsumsi kopi per kapita masyarakat Indonesia dinilai masih relatif rendah.

Billy mengatakan, tingginya jumlah kedai kopi menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sudah memiliki tingkat familiaritas yang tinggi terhadap kopi.

“Familiarity kita terhadap kopi itu memang sudah sangat tinggi dari orang Indonesia,” ujar Billy kepada Olenka, Rabu (23/09/2026).

Baca Juga: Sejuta Jiwa Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Janji Jiwa, Kontribusi Bisnis Capai 20 Persen

Namun, tingginya jumlah kedai kopi belum sepenuhnya sejalan dengan frekuensi konsumsi kopi masyarakat.

Menurut Billy, konsumsi kopi per kapita Indonesia masih berada di sekitar peringkat ke-23. Ia melihat kondisi tersebut sebagai indikasi bahwa pasar kopi nasional masih memiliki peluang untuk berkembang.

“Memang kita banyak coffee shop-nya, tapi per hari itu minumnya masih sedikit. Karena di luar sana mungkin satu hari bisa minum dua sampai tiga kali,” katanya.

Pasar Kopi Masih Punya Ruang Tumbuh

Bagi Janji Jiwa, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peluang di industri kopi tidak hanya berasal dari bertambahnya jumlah konsumen baru, tetapi juga dari peningkatan frekuensi pembelian konsumen yang sudah ada.

Billy menyebut perusahaan melihat peluang tersebut dari sisi addressable market yang masih besar.

Karena itu, strategi untuk mempertahankan pertumbuhan tidak hanya berfokus pada mendorong repeat purchase. Inovasi produk dan kolaborasi juga menjadi bagian dari pendekatan Janji Jiwa.

“Selain melihat addressable market-nya yang masih besar, kita melihat juga bukan hanya dari meningkatkan repeat purchase, tapi juga kolaborasi dengan inovasi,” ujar Billy.

Salah satu bentuknya adalah kolaborasi dengan figur yang memiliki kedekatan dengan konsumen Indonesia.

Billy mencontohkan kolaborasi Janji Jiwa dengan Chef Ray sebagai salah satu upaya menghadirkan inovasi sekaligus mengangkat unsur lokal.

Andalkan Kekuatan sebagai Brand Lokal

Di tengah persaingan dengan berbagai merek kopi, termasuk pemain internasional, Billy menilai status sebagai local brand memberikan sejumlah keunggulan bagi Janji Jiwa.

Salah satunya adalah pemahaman terhadap selera dan karakter konsumen Indonesia.

Menurut Billy, pemahaman tersebut memungkinkan Janji Jiwa mengembangkan produk yang lebih dekat dengan preferensi pasar lokal, mulai dari produk hingga profil rasa.

“Sebagai local brand, kita punya advantage seperti itu dibanding dengan international coffee yang mau masuk ke Indonesia,” katanya.

Baca Juga: Janji Jiwa Rilis Summer Series Bareng RACH?, Berry Brew dan Creamy Berry Pop Terinspirasi Dua Sisi Sang Musisi

Keunggulan tersebut kemudian dapat digunakan untuk menghadirkan produk yang memiliki tingkat familiaritas lebih tinggi bagi konsumen.

“Kita bisa bersaing dalam hal itu, untuk memberikan familiaritas dari publik, personal, dari produk, dari juga taste, profile, yang bisa kita siapkan untuk customer segment kita,” ujar Billy.

Dengan demikian, persaingan di industri kopi tidak hanya berkaitan dengan jumlah gerai atau merek yang tersedia di pasar. Bagi Janji Jiwa, kemampuan memahami konsumen, menghadirkan inovasi, serta menyesuaikan produk dengan selera lokal menjadi bagian penting untuk menangkap peluang pertumbuhan.

Di tengah semakin banyaknya pemain di industri kopi, ruang pertumbuhan tersebut menjadi salah satu celah yang masih ingin digarap Janji Jiwa.