Kamar tersebut justru menjadi tempat bermain, belajar, sekaligus menyimpan berbagai barang, sementara anak tadi masih tidur di kamar yang sama dengan orang tua, di kasur mereka atau di kasur sendiri.
Di kamar tidur orang dewasa, pakaian, tas, buku, aksesori, dan barang pribadi juga dapat berkumpul di sekitar lemari atau tempat tidur ketika belum memiliki tempat penyimpanan yang sesuai. Seiring dengan perubahan kebutuhan keluarga, fungsi ruang dan barang yang disimpan ikut berubah.
“Kami tidak ingin orang terus menyesuaikan hidupnya dengan perabot. Justru perabot yang perlu mengikuti perubahan hidup mereka. Ketika kebutuhan keluarga berubah, kami ingin desain kami membantu mereka menjalani hari-hari dengan lebih mudah. Pada akhirnya, inilah cara kami mewujudkan visi IKEA untuk menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik bagi banyak orang,” tambah Ardan.
Dalam Clean Sleeper, Wonderwhy melihat tidur bukan sekadar aktivitas yang terjadi di penghujung hari, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang dibentuk oleh lingkungan, kebiasaan, dan tuntutan sehari-hari.
Baca Juga: Strategi Bisnis Guardian dan IKEA di 2026 Incar Pertumbuhan yang Berkelanjutan
Di Asia Tenggara, ritme kerja, kehidupan sosial, lingkungan tempat tinggal, hingga kebiasaan menggunakan layar dapat memengaruhi bagaimana seseorang mendapatkan waktu untuk beristirahat.
Cara orang beristirahat pun pada akhirnya mencerminkan bagaimana mereka menjalani kesehariannya, termasuk nilai, kebiasaan, dan konteks budaya yang membentuk kehidupan mereka.