Bagi Jonan, kehadiran seorang pemimpin di lapangan bukan sekadar untuk mengawasi bawahannya. Lebih dari itu, pemimpin perlu menunjukkan bahwa dirinya bersedia melakukan pekerjaan dan menghadapi tantangan yang sama.
“Bahwa ini yang memang harus dikerjakan, makanya saya bilang kasih contoh,” ujarnya.
Pengalaman serupa juga ia tunjukkan ketika memimpin operasional angkutan Lebaran di KAI. Jonan tercatat memimpin operasi Lebaran selama enam kali, sejak 2009 hingga 2014.
Pada tiga tahun terakhir masa kepemimpinannya, yakni 2012, 2013, dan 2014, ia melihat adanya persoalan khusus di Stasiun Pasar Senen pada hari pertama Lebaran.
“Yang tiga terakhir, 12, 13, 14, itu saya melihat bahwa stasiun Pasar Senen itu kalau H1, wah penuhnya luar biasa,” tuturnya.
Situasi tersebut membuat Jonan kembali mengambil pendekatan yang sama. Ia meminta agar kepala stasiun tetap dapat menjalankan ibadah salat Id tanpa meninggalkan kebutuhan operasional stasiun.
Jonan bahkan menawarkan diri untuk menggantikan kepala stasiun selama yang bersangkutan menjalankan salat Id.
“Saya tanya, panggil kepala stasiun, saya tanya, Anda mau sholat Id enggak? Mau Pak, tapi enggak ada yang jaga stasiun. Saya yang gantikan, kamu sholat Id sana, jam sembilan balik ya. Saya ini bisa lho jalanin stasiun,” kata Jonan.
Pengalaman tersebut, menurut Jonan, menggambarkan bahwa kepemimpinan tidak berhenti pada kemampuan memberikan arahan. Pemimpin juga harus memahami detail pekerjaan yang dipimpinnya sehingga mampu turun tangan ketika dibutuhkan.
“Nah, poinnya apa? Leadership itu harus ngasih contoh, dan pemahaman detailnya itu semaksimal mungkin harus bisa,” tegas Jonan.
Baca Juga: Jonan: Pemimpin yang Banyak Mengeluh Tak Bakal Menghasilkan Apa-apa