Growthmates, kepemimpinan bukan sekadar soal memberi arahan, apalagi hanya berdiri di belakang dan menunggu pekerjaan diselesaikan oleh bawahan. Bagi Ignasius Jonan, seorang pemimpin justru harus menjadi orang pertama yang menunjukkan bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan, termasuk ketika harus turun langsung menghadapi persoalan di lapangan.

Prinsip leading by example inilah yang ia pegang selama menjabat sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) periode 2009-2014.

Jonan meyakini, keteladanan menjadi bagian penting dalam membangun rasa hormat sekaligus memastikan tim memahami apa yang harus dikerjakan. Karena itu, ia tidak ragu untuk ikut berada di lapangan dan bahkan mengambil alih pekerjaan ketika situasi membutuhkannya.

“Memimpin itu harus memberikan contoh, leading by example, titik sudah. Saya tidak ada komanya,” kata Jonan, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Senin (14/9/2026).

Lebih jauh, Jonan kemudian menceritakan pengalamannya ketika pertama kali masuk ke KAI. Saat itu, Jonan mencermati pola kecelakaan kereta api yang kerap terjadi pada akhir pekan, khususnya mulai Jumat malam hingga Senin dini hari. Setelah diperhatikan lebih jauh, ia menemukan salah satu persoalan yang menurutnya perlu segera dibenahi.

“Setiap Jumat selesai sore semua yang levelnya tinggi di kereta api hilang sudah, liburan. Padahal di kereta api itu tanggalannya enggak ada yang tanggalan merah itu enggak ada, harus hitam semua,” ujarnya.

Menurut Jonan, operasional kereta api tidak mengenal hari libur karena layanan tetap berjalan setiap hari. Karena itu, keberadaan pimpinan di lapangan juga diperlukan untuk memastikan operasional tetap berjalan dan persoalan dapat segera ditangani.

Sebagai langkah konkret, ia kemudian memanggil jajaran direksi serta kepala wilayah senior untuk membuat jadwal piket pada Sabtu dan Minggu. Para manajer ke atas diwajibkan bergantian menjalankan piket, termasuk dirinya.

“Sebulan saya kena sekali, paling kurang Sabtu Minggu kalau enggak kena dua kali, satu. Tapi dengan saya juga ikut di lapangan, anak buah saya itu bukan takut sama saya, dia pasti merasa respect,” kata Jonan.

Baca Juga: Soal Good Leader, Jonan: Pemimpin Tak Boleh Buang Badan

Bagi Jonan, kehadiran seorang pemimpin di lapangan bukan sekadar untuk mengawasi bawahannya. Lebih dari itu, pemimpin perlu menunjukkan bahwa dirinya bersedia melakukan pekerjaan dan menghadapi tantangan yang sama.

“Bahwa ini yang memang harus dikerjakan, makanya saya bilang kasih contoh,” ujarnya.

Pengalaman serupa juga ia tunjukkan ketika memimpin operasional angkutan Lebaran di KAI. Jonan tercatat memimpin operasi Lebaran selama enam kali, sejak 2009 hingga 2014.

Pada tiga tahun terakhir masa kepemimpinannya, yakni 2012, 2013, dan 2014, ia melihat adanya persoalan khusus di Stasiun Pasar Senen pada hari pertama Lebaran.

“Yang tiga terakhir, 12, 13, 14, itu saya melihat bahwa stasiun Pasar Senen itu kalau H1, wah penuhnya luar biasa,” tuturnya.

Situasi tersebut membuat Jonan kembali mengambil pendekatan yang sama. Ia meminta agar kepala stasiun tetap dapat menjalankan ibadah salat Id tanpa meninggalkan kebutuhan operasional stasiun.

Jonan bahkan menawarkan diri untuk menggantikan kepala stasiun selama yang bersangkutan menjalankan salat Id.

“Saya tanya, panggil kepala stasiun, saya tanya, Anda mau sholat Id enggak? Mau Pak, tapi enggak ada yang jaga stasiun. Saya yang gantikan, kamu sholat Id sana, jam sembilan balik ya. Saya ini bisa lho jalanin stasiun,” kata Jonan.

Pengalaman tersebut, menurut Jonan, menggambarkan bahwa kepemimpinan tidak berhenti pada kemampuan memberikan arahan. Pemimpin juga harus memahami detail pekerjaan yang dipimpinnya sehingga mampu turun tangan ketika dibutuhkan.

“Nah, poinnya apa? Leadership itu harus ngasih contoh, dan pemahaman detailnya itu semaksimal mungkin harus bisa,” tegas Jonan.

Baca Juga: Jonan: Pemimpin yang Banyak Mengeluh Tak Bakal Menghasilkan Apa-apa