Lebih lanjut, ia memaparkan mekanisme yang terjadi di dalam tubuh. Cokelat dan keju dapat melemahkan katup di bagian bawah kerongkongan atau lower esophageal sphincter.
Ketika katup ini tidak bekerja optimal, kata dia, asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan dan memicu refluks.
“Kita tahu coklat dan keju ini akan menyebabkan kelemahan pada klep kerongkongan atau yang kita bilang lower esophageal sphincter, sehingga menginduced terjadinya reflux,” ungkapnya.
Melihat hal ini, Prof. Ari mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam mengonsumsi makanan selama dan setelah Lebaran.
“Oleh karena itu, sekali lagi saya ingatkan, kurangi coklat dan keju, agar kita terhindar dari GERD,” tegasnya.
Bagi mereka yang sudah terlanjur mengalami serangan akut, Prof. Ari menyarankan untuk segera mencari pertolongan medis. Penanganan di IGD penting untuk meredakan gejala dengan cepat. Namun, perawatan tidak berhenti di sana.
“Untuk pasien yang sudah mengalami atau mendapat serangan akut GERD, berobat ke IGD, dan jangan lupa nanti minta kepada dokternya untuk tambahan obat anti asam lambung beberapa hari ke depan,” tambahnya.
Sebagai langkah pencegahan, Prof. Ari kembali menekankan pentingnya menghindari makanan pemicu, khususnya yang mengandung cokelat dan keju. Pasalnya, kata dia, dengan menjaga pola makan, masyarakat dapat tetap menikmati suasana Lebaran tanpa harus terganggu oleh masalah lambung yang kambuh.
“Dan yang jelas kita juga harus menghindari makanan yang mengandung coklat dan keju tersebut,” pungkasnya.
Baca Juga: Kasus GERD di Indonesia Terus Meningkat, Pakar Soroti Faktor Gaya Hidup