Selama bertahun-tahun, kanker kepala dan leher identik dengan pria lanjut usia yang memiliki kebiasaan merokok atau mengunyah tembakau. Namun, anggapan tersebut kini tidak lagi sepenuhnya benar.
Dokter mengungkapkan bahwa profil pasien terus berubah, dengan semakin banyak kasus ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda, bahkan pada mereka yang tidak pernah merokok.
Perubahan ini menjadi perhatian serius para ahli karena kesadaran masyarakat belum mengikuti perkembangan pola penyakit tersebut. Akibatnya, banyak pasien terlambat mendapatkan diagnosis lantaran menganggap gejala awal sebagai keluhan biasa.
Dr. Shailesh V. Shrikhande, Chief Executive Tata Cancer Care Foundation yang didukung Tata Trusts, mengatakan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya perubahan faktor risiko, tetapi juga persepsi masyarakat yang masih tertinggal.
"Salah satu tantangan terbesar dalam kanker kepala dan leher saat ini adalah persepsi masyarakat belum mampu mengimbangi perkembangan penyakit itu sendiri. Meskipun tembakau dan kacang areca tetap menjadi penyebab utama di India, para dokter semakin sering melihat pasien yang lebih muda dan campuran faktor risiko yang berubah, termasuk kanker yang terkait dengan HPV dan meningkatnya penggunaan produk nikotin baru," terang Dr. Shrikhande, dikutip dari Times of India, Rabu (29/7/2026).
Ia menambahkan bahwa keterlambatan diagnosis menjadi ancaman besar karena banyak orang masih meyakini kanker kepala dan leher hanya menyerang orang berusia lanjut.
"Risiko sebenarnya bukan hanya perubahan epidemiologi, tetapi juga keterlambatan diagnosis karena banyak orang masih percaya bahwa kanker ini hanya menyerang orang dewasa yang lebih tua," katanya.
Akibatnya, seseorang yang masih muda dan mengalami sariawan yang tidak kunjung sembuh atau suara serak berkepanjangan sering kali tidak menganggap kondisi tersebut sebagai sesuatu yang serius. Bahkan keluarga maupun teman kerap menyarankan untuk menunggu hingga keluhan membaik dengan sendirinya, sehingga kesempatan untuk mendapatkan pengobatan sejak dini menjadi terlewat.
Meski tembakau, tembakau tanpa asap, dan pinang (supari) masih menjadi penyebab utama kanker kepala dan leher, khususnya kanker rongga mulut, para dokter kini juga melihat peningkatan kasus yang berkaitan dengan infeksi human papillomavirus (HPV). Jenis kanker yang berhubungan dengan HPV umumnya menyerang area orofaring, seperti amandel dan pangkal lidah, serta lebih sering ditemukan pada kelompok pasien yang berbeda dari profil tradisional penderita kanker kepala dan leher.
Selain itu, para ahli juga mencermati meningkatnya penggunaan berbagai produk nikotin baru. Walaupun penelitian mengenai dampak jangka panjangnya masih terus berlangsung, para spesialis mengingatkan bahwa produk tersebut tidak boleh dianggap aman hanya karena berbeda dari rokok konvensional.
Di sisi lain, gejala awal kanker kepala dan leher sering kali tampak ringan sehingga mudah diabaikan. Padahal, mengenali tanda-tandanya sejak dini dapat meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain sariawan yang tidak sembuh-sembuh, bercak putih atau merah di dalam mulut, kesulitan menelan, sakit tenggorokan yang berlangsung lebih dari tiga minggu, muncul benjolan di leher, hingga suara serak yang menetap. Jika keluhan-keluhan tersebut tidak membaik dalam waktu sekitar tiga minggu, dokter menyarankan agar segera memeriksakan diri daripada menunggu gejalanya hilang sendiri.
Diagnosis yang dilakukan sejak stadium awal sering kali memungkinkan tindakan operasi yang lebih kecil, terapi yang tidak terlalu agresif, serta memberikan kualitas hidup yang lebih baik setelah pengobatan.
Kanker kepala dan leher juga tidak hanya memengaruhi kondisi fisik, tetapi dapat mengganggu kemampuan berbicara, makan, menelan, bernapas, hingga mengubah penampilan wajah. Karena itu, penanganannya biasanya melibatkan berbagai disiplin ilmu, mulai dari dokter bedah, ahli gizi, terapis wicara, hingga spesialis rehabilitasi.
Selain dampak fisik, penyakit ini juga membawa beban psikologis yang besar. Banyak pasien merasa cemas untuk kembali bekerja, bersosialisasi, atau bahkan makan bersama keluarga. Inilah alasan mengapa deteksi dini menjadi sangat penting, karena dapat mencegah penyakit berkembang ke tahap yang membutuhkan penanganan lebih kompleks.
Dr. Shrikhande menegaskan bahwa meningkatkan akses layanan kesehatan harus dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya mengenali gejala sejak awal.
"Saat kita berupaya membuat perawatan kanker berkualitas lebih mudah diakses di seluruh India, khususnya di komunitas yang kurang terlayani, kita harus memberikan penekanan yang sama pada kesadaran dan deteksi dini. Kanker kepala dan leher sangat dapat dicegah dan seringkali dapat disembuhkan jika dideteksi sejak dini. Diagnosis tepat waktu dan akses ke perawatan tetap menjadi peluang terbesar kita untuk menyelamatkan nyawa," tutupnya.
Baca Juga: 7 Makanan Pemicu Kanker Menurut Dokter Spesialis Gizi, Bukan Dilarang tapi Wajib Dibatasi!