Politisi PDI-Perjuangan  Andreas Hugo Pareira mengkritik keras blusukan part II yang dilakukan Joko Widodo (Jokowi) di Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah sebelumnya Presiden RI ke-7 itu blusukan di Lampung. 

Menurut politisi asal NTT tersebut, blusukan Jokowi sama sekali tak membawa manfaat bagi rakyat, justru sebaliknya blusukan yang bertujuan mengerek elektoral Jokowi dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu memecah belah rakyat. 

Baca Juga: Blusukan Jokowi, PSI Mulai Endus Ketakutan Ibu Mega Cs

Andreas mengatakan, safari politik Jokowi memang sangat berpotensi memecah belah rakyat karena gelar raja yang didapatkan ketika blusukan.  Adapun Jokowi resmi menerima gelar adat Sesepuh Raja-Raja Timor atau Raja Timor dari delapan raja kerajaan di Pulau Timor. 

"Bagi Jokowi dan partainya, jelas misinya untuk mendongkrak kepentingan elektoral dari PSI. Tapi bagi masyarakat? Tidak jelas misinya, malah justru memecah belah rakyat di akar rumput soal dia yang masih suka main raja-rajaan," kata Andreas, dikutip Selasa (4/8/2026).

Meski begitu, Andreas mengaku tak khawatir sebab masyarakat sudah cerdas, kedatangan Jokowi jelas dibaca sebagai kunjungan yang syarat agenda politik yang punya tujuan terselubung. 

"Saya kira masyarakat ini cukup cerdas untuk melihat mana perilaku yang genuine (asli), dan mana perilaku penuh rekayasa hanya untuk kepentingan berkuasa dan kembali berkuasa," ujarnya.

Sementara itu, Politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dedy Nur Palakka mengaku mulai mengendus ketakutan PDI-Perjuangan di tengah safari politik yang dilakukan Joko Widodo (Jokowi) bersama PSI.

Dia menilai ketakutan itu wajar sebab Jokowi pernah menjadi kader terbaik partai Moncong Putih saat partai politik besutan Megawati Soekarnoputri itu eksis lebih dari 10 tahun terakhir ini 

Menurutnya sampai saat ini PDI-P masih belum mampu mengorbitkan kader sekelas Jokowi. Ia menjadi satu-satunya kader PDI-P yang  pernah mencatat rekor dipilih secara langsung, hal ini yang bikin Jokowi tetap punya pengaruh politik yang sangat besar kendati telah lama hengkang dari PDI-P. 

"Sebenarnya ada semacam ketakutan terselubung dalam tubuh PDI-P. Jokowi mantan kader terbaik mereka sepanjang mereka eksis. Karena satu-satunya kader mereka yang bisa terpilih secara langsung jadi presiden dua periode hanya Jokowi," kata Deddy dilansir Selasa (4/8/2027). 

Baca Juga: Gatot Nurmantyo Dituding Simpan Dendam ke Jokowi: Baru Ingat Negara Setelah Dicopot?

"Mereka fokus membangun kesadaran bangsanya lewat cara-cara yang paling berperikemanusiaan dan berperikeadilan. Sementara para mantan sangat sibuk membuat narasi-narasi miring tentang Jokowi dan keluarganya, itulah bedanya," tambahnya memungkasi.