Polemik antara Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dan pihak-pihak yang membela Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali memanas. Kali ini, mantan Komisaris PT Pelni, Dede Budhyarto, melontarkan kritik tajam terhadap Gatot usai sang jenderal purnawirawan kembali mengungkap dugaan "rencana jahat" yang dikaitkan dengan pemerintahan Jokowi.

Melalui akun X pribadinya, Dede mempertanyakan mengapa berbagai tudingan tersebut baru ramai disampaikan setelah Gatot tidak lagi menjabat sebagai Panglima TNI.

“Gatot Nurmantyo lagi membual hebat soal ‘rencana jahat Jokowi’, ‘sabotase struktural’, menteri-menteri titipan, judi online, blackout, dan lain-lain. Padahal yang paling kelihatan justru dendam pribadi yang sudah diidap sejak 2017,” tulis Dede.

Baca Juga: Dikuliti Habis-habisan Sama Orang Dekatnya Sendiri, Aksi Tipu-tipu Jokowi Dibongkar Tanpa Ampun

Menurut Dede, perubahan sikap Gatot mulai terlihat setelah dirinya digantikan oleh Hadi Tjahjanto sekitar empat bulan sebelum memasuki masa pensiun.

“Dulu dia Panglima TNI. Diganti Hadi Tjahjanto empat bulan sebelum pensiun. Setelah itu baru mulai heboh, bikin KAMI, kritik sana-sini, sekarang malah bilang Jokowi masih ‘mengendalikan’ Prabowo dari belakang,” ujarnya.

Dede pun menyindir Gatot yang dinilai baru menjadi sosok kritis setelah tidak lagi berada di lingkaran kekuasaan.

“Lucu. Ketika masih menjabat diam-diam, begitu ‘ditendang’—istilahnya sendiri—baru merasa jadi pahlawan kebenaran,” lanjutnya.

Baca Juga: Jokowi Tolong Stop Ngibul, Bertobatlah dan Kembali ke Jalan Lurus!

Ia kemudian mempertanyakan mengapa Gatot tidak mengungkap berbagai dugaan yang kini disampaikannya saat masih memiliki kewenangan sebagai Panglima TNI.

“Kalau benar semua itu rencana jahat Jokowi, kenapa baru diungkap sekarang? Kenapa dulu tidak dibuka saat masih punya wewenang? Karena waktu itu masih nyaman di kursi. Begitu kursi dicopot, baru ingat integritas, baru ingat negara, baru ingat ‘sakit hati rakyat’,” kata Dede.

Tak berhenti di situ, Dede menilai pola semacam ini kerap terjadi pada tokoh-tokoh yang keluar dari lingkaran kekuasaan dan kemudian membangun narasi sebagai penyelamat bangsa.

“Ini basi banget: jenderal yang merasa dikhianati, lalu mengubah rasa sakit hati pribadi jadi narasi ‘penyelamat bangsa’. Semua yang diganti Jokowi selalu punya versi heroiknya sendiri. Gatot hanya salah satu yang paling vokal,” ujarnya.

Ia juga meminta agar setiap tuduhan yang dilontarkan disertai bukti konkret, bukan hanya disampaikan melalui tayangan media sosial atau kanal YouTube.

“Kalau mau dipercaya, bawa bukti konkret, bukan hanya cerita di YouTube Hersubeno Point yang durasinya satu jam tanpa skip. Karena sejauh ini yang paling kuat terasa bukan data, melainkan rasa pahit karena sudah tidak lagi digandeng, termasuk oleh pemerintahan yang berkuasa saat ini,” ungkapnya.

Baca Juga: Dua Kali Ajak Makan Ngakunya 54 Kali, Kebohongan Jokowi Soal Penggusuran PKL Pasar Notoharjo Dibongkar Abis FX Rudy!

Menutup pernyataannya, Dede menegaskan bahwa seorang mantan Panglima TNI yang benar-benar mengutamakan kepentingan negara seharusnya tetap menyampaikan kritik, terlepas dari ada atau tidaknya jabatan yang dimiliki.

“Mantan Panglima yang genuine fokus negara tidak perlu menunggu diganti dulu baru ‘bangkit’. Yang seperti itu namanya bukan kepekaan kebangsaan, namanya sakit hati yang dibungkus nasionalisme,” pungkasnya.

Pernyataan Dede Budhyarto tersebut menambah panjang daftar respons terhadap berbagai kritik yang belakangan disampaikan Gatot Nurmantyo mengenai pemerintahan Jokowi dan dinamika politik nasional.