Politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dedy Nur Palakka mengaku mulai mengendus ketakutan PDI-Perjuangan di tengah safari politik yang dilakukan Joko Widodo (Jokowi) bersama PSI.
Dia menilai ketakutan itu wajar sebab Jokowi pernah menjadi kader terbaik partai Moncong Putih saat partai politik besutan Megawati Soekarnoputri itu eksis lebih dari 10 tahun terakhir ini
Menurutnya sampai saat ini PDI-P masih belum mampu mengorbitkan kader sekelas Jokowi. Ia menjadi satu-satunya kader PDI-P yang pernah mencatat rekor dipilih secara langsung, hal ini yang bikin Jokowi tetap punya pengaruh politik yang sangat besar kendati telah lama hengkang dari PDI-P.
Baca Juga: Program MBG dan Korupsi: Prabowo Disebut Tahu Pelakunya
"Sebenarnya ada semacam ketakutan terselubung dalam tubuh PDI-P. Jokowi mantan kader terbaik mereka sepanjang mereka eksis. Karena satu-satunya kader mereka yang bisa terpilih secara langsung jadi presiden dua periode hanya Jokowi," kata Deddy dilansir Selasa (4/8/2027).
PDI-P belakangan gencar mengkritik safari politik yang dilakukan Jokowi di berbagai daerah, menurut Deddy safari politik itu dilakukan untuk membangun kesadaran masyarakat melalui pendekatan yang lebih positif. Ia mengungkit bagaimana mantan presiden itu lebih memilih menunjukkan kerja politik daripada membalas kritik yang diarahkan kepada mereka.
"Mereka fokus membangun kesadaran bangsanya lewat cara-cara yang paling berperikemanusiaan dan berperikeadilan. Sementara para mantan sangat sibuk membuat narasi-narasi miring tentang Jokowi dan keluarganya, itulah bedanya," tuturnya.
Sebelumnya, Safari Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke Nusa Tenggara Timur (NTT) menuai kritik dari Elite Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Andreas Hugo Pareira.
Ia menilai rangkaian kunjungan eks presiden itu dinilai tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bahkan berpotensi memicu perpecahan di tingkat akar rumput hanya karena ingin bermain raja-rajaan di Indonesia Timur.
Menurutnya, agenda yang dijalankan politikus itu lebih mengarah pada kepentingan politik dibandingkan kepentingan masyarakat daerah yang dikunjungi, dalam hal ini NTT.
"Bagi Jokowi dan partainya, jelas misinya untuk mendongkrak kepentingan elektoral dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Tapi bagi masyarakat? Tidak jelas misinya, malah justru memecah belah rakyat di akar rumput soal dia yang masih suka main raja-rajaan," kata Andreas.