Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari akibat buruknya kualitas udara. Paparan polusi dalam jangka panjang juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan serius, terutama pada sistem pernapasan. Bahkan, dampaknya tidak selalu langsung dirasakan setelah seseorang menghirup asap tersebut.

Dokter sekaligus entrepreneur, Tirta Mandira Hudhi atau yang dikenal sebagai Dokter Tirta, mengingatkan bahwa masyarakat yang terus-menerus terpapar asap karhutla perlu mewaspadai risiko gangguan paru-paru dalam jangka panjang.

Dikutip dari perbincangannya yang diunggah melalui akun Instagram @risyadandson, Dokter Tirta menjelaskan bahwa masyarakat di wilayah terdampak karhutla, seperti Kalimantan, berpotensi mengalami masalah kesehatan yang baru terlihat beberapa bulan setelah paparan polusi.

"Jadi untuk orang-orang Kalimantan nih, yang AQI-nya seribu terus, dan lebih dari dua bulan, dan dia mengisap terus, kemungkinan besar dampaknya baru kerasa enam bulan lagi," tutur Dokter Tirta, dikutip Rabu (3/11/2026).

Menurutnya, paparan asap karhutla yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan pernapasan, seperti asma, bronkitis kronis, hingga penyakit paru obstruktif kronis atau chronic obstructive pulmonary disease (COPD).

Ia juga menyoroti potensi meningkatnya risiko kanker paru-paru akibat paparan polusi dalam jangka panjang. Karena itu, masyarakat tidak seharusnya hanya memperhatikan keluhan kesehatan yang muncul ketika kebakaran berlangsung.

"Kemungkinan besar asma kronis, bronkitis kronis, COPD itu akan naik drastis. Dan kemungkinan CA parunya tinggi di sana. Kemungkinan besar, biasanya gitu," katanya.

Dokter Tirta menjelaskan, salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah bronkitis kronis. Berbeda dengan gangguan pernapasan akut seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), keluhan akibat paparan polusi jangka panjang tidak selalu muncul dalam waktu singkat.

"Jadi bronkitis kronis tuh enggak langsung muncul dua minggu. Bisa dua bulan, empat bulan baru muncul. Ada yang bilang ISPA, itu benar, tapi itu akutnya. Yang paling kita takutin tuh bronkitis kronis," jelasnya.

Dokter Tirta menggambarkan paparan asap karhutla seperti akumulasi polutan yang terus masuk ke dalam tubuh setiap hari. Ketika seseorang menghirup udara tercemar secara berulang, dampak kesehatannya dapat berkembang tanpa disadari hingga keluhan mulai muncul.

"Misalkan ini kebakaran hutan, terus kita mengisap polusi tiap hari. Kan polutannya ngumpul di sini. Tiap hari, tiap hari, tiap hari, enggak kelar-kelar, akhirnya gejalanya baru muncul enam bulan kemudian," ungkapnya.

Salah satu komponen polusi yang menjadi perhatian adalah partikel halus PM2.5. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai bagian terdalam paru-paru. Paparan PM2.5 juga dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan, termasuk gangguan kardiovaskular.

Dokter Tirta lantas mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh menganggap kondisi udara aman hanya karena dampak polusi belum langsung terasa.

"Makanya kenapa ke orang-orang, polusi sekarang tuh mungkin dia masih ngerasa aman, terus kita menyepelekan. Kan ada yang bilang, ini masih aman kok. Iya, sekarang. Lu lihat enam bulan lagi," tukasnya.

Baca Juga: Dokter Tirta Kritik Penanganan Karhutla: Negara Wajib Jamin Udara dan Air Bersih

Selain menyoroti dampak kesehatan, Dokter Tirta juga mengkritik komunikasi pemerintah dalam menangani persoalan karhutla dan polusi udara. Menurutnya, penanganan bencana lingkungan membutuhkan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, bukan saling melempar tanggung jawab.

Ia menilai, pemerintah perlu memastikan komunikasi berjalan baik mulai dari tingkat daerah hingga pusat. Dengan demikian, persoalan dapat ditangani secara terkoordinasi dan tidak terus berulang setiap tahun.

"Enggak ada yang nyalahin presiden. Ini salah semuanya. Ya, salah pusat, salah daerah. Kan daerah dan pusat harusnya tersinkronisasi," katanya.

Ia menambahkan, ketika terjadi persoalan dalam penanganan karhutla, perlu ada evaluasi terhadap komunikasi dan koordinasi antarlembaga.

"Wali kota lapor ke gubernur, gubernur lapor ke menteri, menteri lapor ke presiden. Kalau ada sesuatu yang enggak beres, berarti ada yang salah antara komunikasi top and bottom level. Enggak usah saling nyalahin," tegasnya.

Menurut Dokter Tirta, fokus utama seharusnya bukan mencari pihak yang paling bersalah, melainkan memastikan kejadian serupa tidak terulang pada masa mendatang. Upaya tersebut membutuhkan mitigasi dan langkah pencegahan yang lebih serius.

"Ini udah bukan soal nyalahin. Gimana caranya ini enggak terulang lagi di masa depan. Itu namanya mitigasi," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa meningkatnya suhu bumi dan potensi kebakaran lahan membuat persoalan karhutla perlu diantisipasi secara berkelanjutan. Penanganan yang hanya berfokus pada kondisi saat ini tanpa strategi pencegahan jangka panjang dinilai belum cukup.

Di sisi lain, Dokter Tirta turut membagikan kebiasaannya memantau kualitas udara sebelum melakukan aktivitas olahraga di luar ruangan. Menurutnya, kondisi udara menjadi salah satu pertimbangan penting, terutama ketika seseorang melakukan olahraga dengan intensitas tinggi.

Ia mengaku kerap memeriksa indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) sebelum berlari. Jika kualitas udara sedang buruk, ia memilih berolahraga di dalam ruangan menggunakan treadmill.

"Aku kalau lari tuh lihatin AQI. Kalau AQI 100 atau 150, aku lari treadmill. Tapi kalau sepeda masih aman. Yang penting zona HR," ungkapnya.

Ia juga menjelaskan, ketika seseorang berlari dengan intensitas tinggi hingga mencapai zona detak jantung tiga atau empat, frekuensi dan kedalaman pernapasan akan meningkat. Akibatnya, volume udara yang masuk ke paru-paru juga semakin besar.

"Jadi gini, lari itu kan zona HR-nya bisa tiga atau empat. Berarti karena zona tiga, zona empat, jantung berdetak cepat. Dan kita akan mengisap udara itu terlalu dalam. Inspirasi maksimal. Sehingga polutan bisa terserap sampai dalam," jelasnya.

Karena itu, ia menyarankan masyarakat mempertimbangkan olahraga di dalam ruangan ketika kualitas udara sedang buruk, khususnya untuk aktivitas berintensitas tinggi seperti lari interval.

"Kalau polutan gini ya, pakai masker, sepedaan, atau motor, masih aman. Tapi kalau udah lari yang nge-push interval, mending indoor. Karena makin masuk ke dalam paru-paru ya," pungkasnya.

Baca Juga: Kabut Asap Lintas Negara Makin Parah, Greenpeace Desak Pemimpin ASEAN Berhenti Basa-basi