3. Diet Vegan

Pola makan vegetarian dan vegan berfokus pada eliminasi total produk daging (termasuk unggas dan ikan). Bedanya, vegetarian masih mengonsumsi telur atau susu, sedangkan vegan benar-benar menghindari seluruh produk turunan hewan.

Pilihan menu terbaik untuk diet yang satu ini adalah buah-buahan, sayur segar, kacang lentil, produk kedelai (seperti tahu dan tempe), serta minyak nabati. Melimpahnya serat, antioksidan, serta senyawa anti-inflamasi alami dari tanaman yang efektif menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL).

Kualitas makanan tetap nomor satu. Diet vegan atau vegetarian tidak akan berdampak baik bagi jantung jika kamu masih sering mengonsumsi makanan olahan vegetarian (ultra-processed vegan food) yang tinggi gula tambahan dan tepung halus.

4. Diet Fleksitarian

Diciptakan oleh ahli gizi Dawn Jackson Blatner, diet fleksitarian sangat cocok bagi kamu yang ingin mendapatkan manfaat sehat dari pola makan nabati, namun belum siap untuk berkomitmen penuh menjadi vegetarian atau vegan.

Dominan sayur dan buah memang baik untuk diet ini, namun tetap diperbolehkan konsumsi daging, ikan, dan produk susu dalam jumlah moderat sesuai preferensi pribadi.

5. Diet TLC

Therapeutic Lifestyle Changes (TLC) merupakan program diet yang dirancang khusus oleh Lembaga Kesehatan Nasional AS (NIH) untuk membantu menekan risiko stroke dan mengontrol berat badan ideal melalui pengelolaan kolesterol.

Makanan kaya serat larut (soluble fiber) seperti bekatul gandum (oat bran), buah-buahan, serta bahan makanan yang mengandung stanol atau sterol tanaman (biji-bijian dan kacang murni) menjadi menu terbaik yang bisa kamu jadikan pilihan.

Menjaga kesehatan jantung tidak melulu soal batasan ketat, melainkan tentang bagaimana kamu membangun kebiasaan makan baru yang kaya akan nutrisi makro alami. 

Memilih diet yang sesuai dengan preferensi pribadimu adalah langkah awal terbaik agar rutinitas ini terasa menyenangkan untuk dijalankan. Namun, sebelum kamu memutuskan untuk melakukan transisi atau membatasi asupan makanan secara ekstrem, sangat disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis gizi klinik atau ahli diet berlisensi agar mendapatkan panduan porsi yang paling aman bagi tubuhmu.