Skincare nggak cuma jadi bagian dari rutinitas orang dewasa. Si kecil pun mulai dikenalkan dengan produk perawatan kulit sejak dini, mulai dari sabun, lotion, sampai sunscreen.
Namun, memilih skincare untuk anak tentu nggak bisa asal ikut tren, Growthmates! Klaim seperti “100% alami”, “organik”, atau “dermatology tested” di kemasan memang terdengar meyakinkan, tapi ada beberapa hal lain yang perlu dicek untuk memastikan produknya benar-benar aman dan teruji.
Memilih produk skincare untuk bayi dan anak-anak memang tidak bisa asal, karena kulit mereka 30 persen lebih tipis dari orang dewasa. Kondisi ini membuat kulit si Kecil jauh lebih sensitif dan mudah menyerap zat apa pun yang dioleskan di kulitnya.
Baca Juga: 7 Kandungan Skincare yang Membantu Kulit Beradaptasi dengan Pergantian Musim
Perlu juga diketahui saat ini, industri perawatan anak sedang menghadapi maraknya fenomena greenwashing, yang bisa diartikan sebagai praktik pemasaran yang memberi kesan seolah suatu produk aman dan ramah lingkungan. Padahal kenyataannya belum tentu demikian.
Sebuah studi pada 2024 mengungkapkan, dari puluhan merek kosmetik yang mengklaim ramah lingkungan untuk bayi, 39% di antaranya memanipulasi atau menyembunyikan detail informasi kemasan, dan hanya 18,4% yang memiliki sertifikasi organik resmi dari pihak ketiga.
Lalu, bagaimana caranya agar kita nggak mudah terkecoh oleh produk skincare bayi dan anak? Berikut 5 cara memastikan produk skincare benar-benar aman untuk si kecil lewat simbol dan klaim di kemasan seperti dikutip, Minggu (30/8/2026).
1. Simbol kelinci (leaping bunny)
Keamanan bahan baku skincare berawal dari proses produksinya. Produk yang bebas dari uji coba pada hewan (cruelty-free) mencerminkan standar etika produksi dan transparansi pemilihan bahan baku. Ini memastikan tidak ada bahan kimia berbahaya atau zat uji coba tersembunyi yang berisiko bagi kulit sensitif anak.
Sayangnya, banyak produk yang mengklaim cruelty-free padahal tidak memiliki sertifikasi resmi dari lembaga yang berwenang. Bahkan ada produsen yang menempelkan logo ini padahal mereka masih membeli bahan baku dari pemasok yang melakukan uji coba pada hewan.
Apa yang harus dilakukan? Jika melihat ada logo kelinci di kemasan produk, pastikan merek tersebut terdaftar dalam basis data resmi Leaping Bunny yang menjamin rantai pasok bebas pengujian hewan secara keseluruhan.
2. Klaim “Organik”
Banyak produk bayi dan anak berlabel "Organik" yang perlu diwaspadai karena bisa jadi hanya klaim sepihak dari produsen tanpa sertifikasi resmi dari pihak ketiga terpercaya seperti Ecocert COSMOS Organic.
Ada produsen yang tetap menempelkan klaim organik hanya karena menggunakan satu bahan baku organik, sementara 99% sisanya merupakan bahan sintetis.
Penggunaan bahan organik bersertifikat memastikan bahwa bahan-bahan organik dalam produk skincare diproses tanpa pestisida, pupuk kimia, dan rekayasa genetika (GMO). Pada kulit bayi yang sensitif, paparan residu bahan-bahan tersebut dari produk organik abal-abal dapat memicu iritasi, alergi, hingga risiko kesehatan.
Apa yang harus dilakukan? Pilih produk yang memiliki sertifikasi resmi Ecocert COSMOS. Untuk mendapatkan sertifikasi ini, produk wajib memenuhi standar ketat, yaitu minimal 95% dari bahan berbasis tumbuhan di dalamnya merupakan bahan organik.
Selain itu, produk dilarang keras menggunakan silikon, paraben, turunan minyak bumi, hingga bahan rekayasa genetika. Ecocert juga memastikan bahwa kemasan produknya ramah lingkungan dan pabrik pembuatnya diaudit secara fisik setiap tahun.
Namun, memiliki klaim sertifikasi saja belum cukup. Konsumen tetap perlu memastikan bahwa sertifikasi tersebut benar-benar valid. Untuk memastikan sebuah produk memiliki sertifikasi Ecocert COSMOS Organic yang resmi, konsumen dapat melakukan pengecekan melalui basis data resmi Ecocert Greenlife.
Selain itu, konsumen juga harus berhati-hati terhadap produk atau perusahaan nakal yang mencantumkan nama dan logo Ecocert COSMOS secara ilegal (pelanggaran merek dagang). Kamu bisa memeriksa daftar perusahaan atau produk dengan klaim palsu tersebut di halaman resmi Unauthorized references to Ecocert.
Baca Juga: 10 Tren Skincare yang Sebaiknya Dihentikan Menurut Dokter Kulit
3. Klaim “Dermatologically Tested”
Memastikan produk skincare bayi dan anak telah diuji secara klinis (Dermatology tested) sangat penting agar kulit mereka terhindar dari iritasi dan alergi, serta tidak merusak struktur pertahanan kulit (skin barrier) anak yang dapat menyebabkan kulit kehilangan kelembapannya.
Sayangnya, label "Dermatologically tested" tidak memiliki definisi hukum yang pasti. Produsen bisa saja mengklaim produknya sudah teruji secara klinis, padahal pengujiannya hanya dilakukan pada sedikit orang dewasa dalam hitungan hari saja tanpa melakukan pengujian pada kulit dengan karakteristik seperti kulit anak.
Apa yang harus dilakukan? Pilih produk yang terpercaya karena telah mencantumkan hasil pengujian yang spesifik, misalnya diuji klinis di bawah pengawasan dokter anak (pediatrician-tested) dan mau mempublikasikan ringkasan hasil uji klinisnya.
Agar lebih yakin, kamu bisa proaktif menghubungi layanan konsumen resmi dari merek produk tersebut untuk menanyakan bukti uji klinisnya.
4. Klaim “Clean formula” dan “Alami”
Kulit bayi dan anak rentan mengalami iritasi akibat paparan iritan seperti SLS/SLES, paraben, dan pewangi sintetis. Parfum/pewangi (fragrance) merupakan salah satu pemicu utama reaksi alergi (contact dermatitis) pada bayi.
Perlu diketahui kalau parfum/pewangi atau fragrance dalam komposisi bahan suatu produk sering kali menjadi celah hukum (fragrance loophole) untuk menyembunyikan ratusan zat kimia tambahan, termasuk phthalates yang merupakan zat pengganggu hormon.
Selain itu, label “100% Alami” yang umumnya kaya akan minyak atsiri (essential oils) juga belum tentu cocok, karena minyak tumbuhan berkonsentrasi tinggi justru berpotensi memicu alergi kulit bayi dan anak.
Apa yang harus dilakukan? Selalu baca komposisi bahan di kemasan. Untuk kulit bayi yang sensitif, pilih produk dengan label fragrance-free (bebas pewangi), bukan hanya unscented.
Baca Juga: Bukan Skincare Saja, 5 Minuman Ini Bisa Membantu Kulit Tampak Lebih Sehat
5. Klaim “Aman untuk bayi/anak”
Reaksi negatif produk skincare dalam bentuk ruam tidak selalu muncul secara instan setelah produk dioleskan ke kulit.
Bahan iritan yang tidak teruji klinis dapat terakumulasi dan secara perlahan merusak perlindungan kulit anak dalam rentang waktu lebih lama sampai hitungan minggu. Kondisi ini dapat memicu eksim kronis atau sensitivitas kulit jangka panjang.
Apa yang harus dilakukan? Pastikan produk telah melalui uji tempel klinis (clinically patch-tested) untuk menjamin tidak ada reaksi iritasi akut maupun lambat. Sebagai langkah ekstra, biasakan melakukan patch test mandiri di rumah.
Oleskan sedikit produk di area seperti belakang telinga atau siku dalam anak, lalu amati reaksinya selama 24–48 jam. Jika tidak ada reaksinya yang mengkhawatirkan, berarti aman untuk dioleskan di seluruh tubuh.
Memilih skincare bayi dan anak bukan tentang mencari kemasan yang paling cantik atau memiliki berbagai klaim yang memberi kesan aman. Sebagai orang tua, kamu harus kritis dan proaktif untuk memastikan bahwa semua klaim tersebut benar dan terverifikasi secara sah, tidak hanya akal-akalan produsen saja. Kamu bisa mulai hari ini dengan memeriksa kembali produk bayi dan anak di rumah demi perlindungan kulit mereka dalam jangka panjang.