Cuaca panas yang melanda berbagai daerah di Indonesia perlu diwaspadai, terutama bagi masyarakat yang tetap beraktivitas di luar ruangan atau berolahraga dengan intensitas tinggi.
Dokter Spesialis Jantung Konsultan Kardiologi Intervensi di RS Hermina Depok, dr. Bobby Arfhan Anwar, SpJP(K), mengingatkan bahwa paparan panas berlebihan dapat memicu heat stroke, kondisi darurat medis yang berpotensi menyebabkan kerusakan organ hingga kematian jika tidak segera ditangani.
Peringatan ini kembali menjadi sorotan setelah muncul kabar meninggalnya seorang calon pengelola Koperasi Desa (Kopdes) yang diduga berkaitan dengan kondisi kelelahan akibat paparan panas saat beraktivitas.
Menurut dr. Bobby, tubuh manusia sebenarnya memiliki mekanisme alami untuk menjaga suhu tetap normal, yakni sekitar 36 hingga 37,5 derajat Celsius.
Salah satu mekanisme tersebut adalah mengeluarkan panas melalui keringat. Namun, dalam kondisi tertentu, sistem pengaturan suhu tubuh dapat gagal bekerja.
"Hati-hati dengan heat stroke, khususnya bagi teman-teman yang sedang berolahraga. Tubuh kita harus dijaga suhunya tetap dalam batas normal, sekitar 36 sampai 37,5 derajat Celsius. Tubuh sebenarnya punya sistem pertahanan untuk mengatur dan meregulasi panas, salah satunya dengan mengeluarkan keringat,” ungkap dr. Bobby, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Senin (29/6/2026).
“Heat stroke terjadi ketika sistem ini gagal sehingga panas di dalam tubuh tidak bisa keluar dengan baik dan suhu tubuh meningkat hingga lebih dari 40 derajat Celsius," lanjut dr. Bobby.
dr. Bobby melanjutkan, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami heat stroke. Di antaranya adalah cuaca yang sangat panas, tingkat kelembapan udara yang tinggi sehingga penguapan keringat menjadi tidak optimal, kondisi dehidrasi, serta aktivitas fisik atau olahraga dengan intensitas berat.
Menurutnya, ketika tubuh tidak lagi mampu membuang panas secara efektif, suhu tubuh akan terus meningkat. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada sel-sel tubuh dan mengganggu fungsi organ vital seperti otak, jantung, ginjal, hingga organ lainnya.
Baca Juga: Panduan Jalan Kaki 30 Menit dari Dokter Spesialis Jantung
Karena itu, dr. Bobby mengimbau masyarakat agar tidak memaksakan diri berolahraga saat kondisi cuaca sedang terik. Menjaga kecukupan cairan tubuh juga menjadi langkah penting untuk mencegah terjadinya heat stroke.
"Bagi teman-teman yang sedang berolahraga, khususnya dengan intensitas berat, pastikan tubuh tetap terhidrasi. Perhatikan juga suhu lingkungan. Kalau cuacanya sangat panas, sebaiknya olahraga ditunda dulu. Gunakan pakaian yang longgar dan jangan lupa beristirahat apabila mulai muncul keluhan," kata dr. Bobby.
dr. Bobby menambahkan, sejumlah gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain pusing, mual, muntah, napas terasa sangat berat, hingga muncul rasa ingin pingsan. Jika kondisi tersebut muncul, kata dia, ktivitas fisik sebaiknya segera dihentikan agar tidak berkembang menjadi heat stroke.
"Kalau muncul keluhan seperti pusing, mual, muntah, napas yang terlalu berat sampai rasa mau pingsan, jangan dipaksakan. Tetap waspada dan hati-hati selama berolahraga," tegasnya.
Sebagai informasi, heat stroke sendiri merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang ditandai dengan suhu tubuh mencapai atau melebihi 40 derajat Celsius.
Penderitanya dapat mengalami kebingungan, mengigau, kehilangan kesadaran, kulit terasa sangat panas, serta napas dan denyut jantung menjadi lebih cepat.
Apabila menemukan seseorang dengan gejala tersebut, pertolongan pertama yang harus dilakukan adalah segera memindahkan korban ke tempat yang lebih sejuk, melakukan pendinginan tubuh menggunakan kompres air dingin atau merendam tubuh jika memungkinkan, kemudian segera membawa pasien ke instalasi gawat darurat (IGD) untuk mendapatkan penanganan medis.
dr. Bobby menegaskan bahwa heat stroke bukan sekadar kondisi ‘kepanasan’ biasa. Tanpa penanganan yang cepat dan tepat, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan organ permanen bahkan mengancam nyawa.
"Ingat, heat stroke bukan sekadar kepanasan, tetapi kondisi darurat medis yang bisa menyebabkan kerusakan organ hingga kematian apabila terlambat ditangani. Karena itu, kenali gejalanya dan jangan ragu segera mencari pertolongan medis," pungkasnya.
Baca Juga: Benarkah Orang Gemuk Lebih Rentan Terserang Penyakit Jantung?