Growthmates, investasi menjadi salah satu cara untuk mengembangkan aset dan membangun kondisi keuangan yang lebih baik. Namun, keputusan berinvestasi tanpa pemahaman yang cukup, terlebih hanya karena mengikuti tren atau fear of missing out (FOMO), justru dapat menimbulkan masalah finansial.
Hal tersebut diungkapkan Agnes Aninditya Kumala Aprilia, Entrepreneur sekaligus Private Consultant dan Certified Hypnotherapist.
Dikutip dari unggahan Instagram @senalar.id, Rabu (3/11/2026), Agnes mengaku belakangan ini cukup sering menerima klien hipnoterapi yang mengalami stres dan kecemasan akibat terlilit utang setelah mengikuti investasi yang ditemukan melalui media sosial.
"Aku akhir-akhir ini sering banget kedatangan klien hipnoterapi. Stresnya karena kegulung utang, karena investasi yang dia temukan di sosial media," ungkap Agnes.
Menurut Agnes, meskipun perkembangan edukasi finansial saat ini semakin baik dan informasi investasi semakin mudah diakses, masyarakat tetap perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan. Sebab, tidak sedikit orang yang tergoda berinvestasi karena melihat peluang keuntungan atau mendengar rekomendasi dari orang lain.
Misalnya, ketika seseorang mendapat informasi bahwa saham blue chip tertentu memiliki prospek bagus, ia langsung tertarik untuk membeli tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan kondisi keuangannya.
Padahal, investasi seharusnya menggunakan dana yang memang dialokasikan khusus dan tidak mengganggu kebutuhan sehari-hari atau kewajiban finansial lainnya.
"Kayak, wah misalnya dia dengar temennya, itu saham blue chip nih bagus banget gitu ya. Tapi yang dinamakan investasi harus pakai uang dingin kan," jelasnya.
Baca Juga: Emas untuk Investasi atau Lindungi Kekayaan? Ini Penjelasan Financial Planner