Agnes menegaskan, uang dingin merupakan dana yang dapat digunakan untuk berinvestasi setelah kebutuhan primer dan perlindungan keuangan terpenuhi.

Artinya, seseorang tidak seharusnya mencari modal investasi dengan cara meminjam uang atau menambah utang.

"Uang dingin ya tadi tuh setelah primer kamu ada, protection ada lah. Kalau ini, uang dinginnya dicari dari minjem lagi, dari utang lagi gitu loh. Jadi ruwet gitu," tuturnya.

Kondisi tersebut, menurut Agnes, dapat membuat persoalan keuangan semakin rumit. Ketika investasi tidak menghasilkan keuntungan sesuai harapan, seseorang tetap harus menanggung kewajiban membayar pinjaman. Tekanan finansial pun berpotensi berkembang menjadi masalah psikologis.

Ia pun mengaku beberapa kali menemukan klien yang mengalami stres hingga kecemasan atau anxiety akibat keputusan investasi yang justru membebani kondisi keuangan mereka.

"Jadi aku beberapa kali nih kedatangan orang yang stres dan anxiety-nya karena itu. Jadi hati-hati ya teman-teman, soalnya investasi itu sebenarnya bukan karena FOMO-FOMO-an," katanya.

Selain mengingatkan bahaya mengikuti tren investasi, Agnes juga meminta masyarakat lebih selektif ketika ingin menanamkan modal pada bisnis milik orang lain.

Menurutnya, calon investor harus memahami terlebih dahulu bisnis yang akan didanai. Pengetahuan mengenai model usaha, laporan keuangan, hingga sumber keuntungan menjadi hal penting sebelum memutuskan untuk menginvestasikan uang.

"Dan kalau enggak ngerti jangan, apalagi investasi ke bisnis orang gitu ya. Emang ngerti bisnisnya itu apa, gimana laporan keuangannya, dapat untungnya itu dari mana gitu," tegas Agnes.

Baca Juga: Pilih Deposito atau Tabungan untuk Investasi 5 Tahun? Ini Penjelasan Perencana Keuangan