Lebih jauh, Dr. Riza menjelaskan bahwa faktor genetik memang memiliki pengaruh, termasuk dalam hal kecenderungan emosi dan respons terhadap stres. Namun, bukan berarti manusia sepenuhnya ditentukan oleh warisan biologis.

“Kalau orang tuanya stres, depresi, marah, kita hanya akan mewarisi 50% dari sifat-sifat itu. Genetiknya turun ke kita 50%, sisanya tergantung dari kita,” ujarnya.

Dengan kata lain, lingkungan, pengalaman hidup, dan pilihan pribadi memiliki peran besar dalam membentuk bagaimana seseorang merespons tekanan hidup.

Kemudain, Dr. Riza juga menyoroti bagaimana energi negatif dari lingkungan sekitar dapat memengaruhi seseorang lebih kuat dibandingkan energi positif. Bahkan, dampaknya disebut bisa berkali lipat lebih besar.

“Kita tiga kali lebih gampang kena impact negatif dari seseorang yang negatif ketimbang yang positif,” jelasnya.

Karena itu, Dr. Riza menekankan pentingnya menjaga lingkungan sosial yang sehat serta membangun ketahanan mental melalui kebiasaan positif.

Dalam pandangannya, setiap individu tetap memiliki kendali atas arah hidupnya, terlepas dari kondisi awal yang tidak ideal.

“Kalau Anda terlahir susah, itu tidak apa-apa. Tapi kalau Anda mati susah, it's on you,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa upaya untuk melawan pengaruh negatif membutuhkan usaha yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar menerima pengaruh positif.

“Kita butuh lima kali effort, lima kali positivity untuk mengatasi satu negativity,” pungkas Dr. Riza.

Baca Juga: 8 Kota di Dunia dengan Tingkat Stres Tertinggi dan Faktor Pemicunya